logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Bahasa Sumba Kambera

11 Jan

Bahasa Sumba Kambera

PENETAPAN PROF. DR. ONVLEE
(AHLI BAHASA SUMBA KAMBERA) TENTANG
SYARAT-SYARAT PENULISAN BAHASA KAMBERA
(Penetapan pada, 13 Oktober 1965)

PERTIMBANGAN DASAR:
a. Syarat-syarat penulisan dan bagian kata-kata yang telah dipakai dalam buku “NA PARÁNDINGU BIDI” kiranya dipandang sebagai titik tolak dan pedoman/norma.

b. Hendaklah “i”, “u”, “a” panjang/pendek dalam kata-kata yang terdiri atas satu suku kata, tetap dibedakan. (Lihat I.3 di bawah ini).

c. Pembagian kata-kata menurut beberapa nasihat beberapa ahli (Prof. Dr. J. Wielenga dan Tuan J. L. Erkelens) sebaik-baiknya dengan am kata-kata jangan lebih panjang dari tiga suku kata: bagi anak-anak (begitu pun orang dewasa yang kurang sekolahnya) lebih mudah membaca kata-kata yang tiga suku kata daripada yang empat suku kata atau lebih. Dengan kata lain pembagian yang lazim dalam buku “NA PARÁNDINGU BIDI” kiranya dipergunakan terus.

d. Mengenai syarat-syarat yang lain maka Prof. Dr. L. Onvlee sudah menyetujui usulan dari Oe. Hina Kapita dan Ds. Mb. Ratoebandjoe.

BAHASA KAMBERA.
I. SYARAT-SYARAT PENULISAN
1. Kalau tekanan kena pada suku pertama dalam kata-kata yang terdiri atas 2 – 3 suku kata, tidak dibedakan “i” dan “u” panjang/pendek; hanya “a” pendek diberi tanda pepet di atasnya “ à “ umpamanya: luku = sungai/kali, didi = sendiri, ràma = kerja.

2. Kalau tekanan kena suku terakhir dalam kata, yang terdiri atas 2 – 3 suku kata, perlu membedakan “i”, “u”, dan “a” panjang/pendek;
Panjang : “ ii “, “ uu “, “ aa “, contohnya: panii = beri tahu, hakahii = saksi, manjuu = lapar, katuu = sakit, ariyaa = tamu
P e n d e k : “ i “, “ u “, “ a “,

3. Dalam kata – kata yang terdiri atas satu suku kata saja perlu membedakan “i“, “u”, dan “a” panjang/pendek.
Panjang : “ ii “, “ uu “, “ aa “, umpamanya: lii = bahasa, hii = menangis, (hiingu = menangisi), mbuu = juga, luu = segera/agar, ka ngaa = supaya makan.

4. Dalam kata – kata kerja yang berakhiran ‘i’ atau ‘a’, yang ditambahi lagi kata modalitet ‘i’ atau ’a’ menjadi dua ‘i; atau dua ‘a’, kedua ‘i’ atau ‘a’ itu perlu dipisahkan dengan tanda pemisah ( – ), supaya jangan disamakan dengan ‘i’ atau ‘a’ panjang:
Contoh: nanggepi – i = mungkin cocok; narihi – ipa = terlebih (band. Lukas 11 : 13); ni – inyapa = mungkin dia masih ada.
NB :

Tidak perlu memakai tanda pemisah dalam kata-kata sbb:

nda nanggepia = tidak cocok; ninyaipa = masih ada; na ma-paangu = yang berteman (Mat 10 : 21); na ma-maaya = yang kakak (Wahyu 1 : 5), dan sebagainya

5. Kata – kata ulang yang dihubungkan denga tanda penghubung ( – ).
Umpamanya: haàtu – haàtu = satu – persatu; lundu nu – nu = sampai selama-lamanya; hau kota – hau kotaku = tiap-tiap kampung.
Catatan Mb. R:
Untuk membedakan antara “garis pemisah” dengan itu harus ada spasi kiri kanannya., sedang “garis pemisah tidak perlu ada spasi.
Contoh: ma-karitaku = yang melekat; kota – kotaku = kampung-kampung.

6. Penunjuk penderita dihubungkan dengan kata kerja, meskipun penunjuk itu terdiri atas dua suku kata.
Contoh : napalukama = dia memukul kami; wànanggama = dia katakan.

7. Trema di atas ‘i’, dan ‘u’ ( ï, ü ) tetap dipergunakan
Contoh: paraïna = yang dilakukan; taï = tadi; aü = abu, maüku = mabuk

8. Hamza ( ‘ ) tetap dipergunakan
Contoh : na paa’amu = berakar (Mat 5 :27)

9. Kata mbu = juga; dihubungkan dengan kata bersangkutan
Contoh: nyudambu = mereka pula (Wahyu 1 : 7); tuna numbu = demikian pula (Wahyu 3 : 5)

10. Kata modalitet ‘ma‘ dihubungkan dengan kata bersangkutan
Contoh: langatàka manggunggau = sesungguhnya kukatakan (Matius 5 : 26); màndungumananya.

11. Huruf besar / kapital dipergunakan untuk beberapa nama tertentu.
Contoh:
a. Nama Tuhan atau kata yang menunjukkan Tuhan
Ala; Ama; Ngahu; Hanganjii; na Mambiha – meha (Wahyu 1 : 8); i Jangga – meha (Lukas 1 : 32); na Ma – kawana – nja da pihu kandunu (Wahyu 2 : 1); Nyuna na Maninya (Wahyu 1 : 4); na Ma – tua (Wahyu 3 : 7)
b. Nama Alkitab dan Sakramen
Huratu; Huratu Matua; na Pamangu Rudungu; na Parunungu
c. Nama – nama pangkat.
Ratu Bokulu (Matius 26 : 3); na Ma – pareta (Matius 28 : 14)
d. Nama – nama persidangan.
e. Bata Bokulu (Matius 26 : 57); Batangu (Kisah 6 : 15)
f. Nama – nama orang / panggilan : Ndautu; Hitipanu
g. Nama – nama tempat : Mbambilu, Atioki dll
Catatan: Huruf besar/kapital tidak dipergunakan untuk kata ‘nama’ (tamu) meskipun mengenai nama Tuhan.
Contoh: la tamuna i Ama (Matius 28 : 19)

12. Tanda kutip/pengapit tidak dipergunakan
Contoh: ………………… la manggadipangu: Ha Yuhupu ……………. (Matius 1 : 20)
Dalam bahasa Sumba Kambera, kalimat yang diungkapkan/ditiru selalu diakhiri dengan: …….wàna.

II. SYARAT – SYARAT PEMBAGIAN (PEMISAHAN) KATA – KATA PANJANG

1. Kata – kata yang suku katanya lebih dari 3.
Dibagikan, dengan pengertian bahwa kata asal / kata dasar tak boleh dibagikan (dipisah – pisahkan) suku katanya, meskipunkata dasarnya mempunyai 4 atau 5 suku kata, namun tetap bersatu. Dalam pembagian itu kata dasar disendirikan.
Contoh: kamàhaku = ; malamiri = kemudian; palonggamaingu = saling mengunjungi.
Kata dasar/asal disendirikan,
napalu – kama; paràha – nanjaka.

2. Penunjuk pokok dihubungkan dengan kata kerja, kecuali jika:
a. Kata dasar/asal mempunyai 3 suku kata atau lebih.
Contoh: ku – hondaru = sunyi ; na – padaingu = tetap (Matius 10 : 13)
b. Penunjuk pokok ‘u’, ‘i’ tak dihitung.
Contoh: utulihu – ya = engkau menuliskan (Wahyu 1 : 19); idukuka = kamu telah memikul aku (Wahyu 2 : 3)

3. Awalan (prefiks) pa dipisahkan dari kata dasar yang 3 suku kata atau lebih.
Contoh: pa – watungu = berbatu – batu.
Kecuali kalau:
a. ‘pa’ didahului ‘ma’ pula.
Contoh: la ma – pawatungu = di tempat yang berbatu. (Matius 13 : 5)
b. Kata – kata yang terlalu lazim, yakni: pahanganji = yang merajai; pengerangu = cerita; paraïna = yang dilakukan; papalewa = yang disuruh.

4. ‘pa’ di depan kata kerja = ‘pa’ kausatif (yang artinya mengadakan supaya ………………. sama dengan akhiran ‘kan’ dalam bahasa Indonesia).
Contoh: pa hadangu = membangkitkan
Syaratnya: ‘pa’ diceraikan dari kata kerja kala/awal: jumlah suku kata 4 – 5 atau lebih.
Contoh:

4 suku kata:     pahadangu; pamàlaru; pakiringu.

5 suku kata:     ku – pambelingu – ka (Wahyu 1 :12)

pa – patàkangu – ha (Wahyu 1 : 4)

(Wahyu 2 : 21) ka peku panjilungu – na, taka nda nabihua pa – panjilungu

5. Kata modalitet diceraikan dari kata dasar.
Contoh: nda jia ma – maeri – akau (Matius 2 : 6)
Halapa – anaka (Matius 3 : 11)
nda la kapàtangu – akai (1 Tesalonika 5 : 4)
kecuali: Amaamu (Matius 6 : 18); kambambaa (Matius 4 : 4); nunaa (Matius 41 : 10);
nda nggara naihi waanya na mapingu muru (Matius 9 : 12); nyunaa (Matius 4 : 10), nda kutunggai buku hau (Wahyu 2 : 24); nda nggàraa (Wahyu 3 : 17) dsbnya.

6. Kata modalitet ‘ma’ diceraikan dari kata asal/dasar.
Contoh: màndungu – mananya; pi – manggunya.
maa: ngala juangu – ma – aminya (Matius 10 : 8)
a makia : ba wàngu pahau njàmu – makia – ka ba na – molungu (Wahyu 18 : 19)
ndedi pira – amakia – napa (Lukas 7 : 6)
ama: malingu – ama – naka ( Lukas 9 :12)
kamangu: datika pa – pahanggàmaru – kamangu (Lukas 7 : 2)
madu: ka ba ata – madu – nangga i Miri (Lukas 1 : 38)
maka: kumeti – maka (Wahyu 1 : 18)
7. Hubungan kata – kata modalitet madua, padua, kadua, ditulis tersendiri ditulis tersendiri.
Contoh: nu pi madua – nanyaka la etina (Markus 2 : 8) = mengetahui di dalam hatinya.
Katuda – na padua – ka i Haulu = Saul sementara tidur

8. Dimi: diceraikan dari kata asal/dasar.
Contoh: kiku – dimi – nyaka = kamu mengikutinya

9. Hubungan kata – kata modalitet ‘kia’ diceraikan dari kata asal/dasar.
Contoh: jia la punggu – kia – yaka duna (Lukas 3 : 9); = akan ditebang
ba didi meha – kia – yaka = dia hanya sendiri

10. Yiana , yiada dianggap satu kesatuan.
Contoh: yiana – mayaka na wini etina = inilah isi hatinya; yiada – ha da patiki – na = inilah yang dikatakannya.

Dikutip oleh Ds. Mb. Ratoebandjoe dari lampiran surat Ds. P. J. Luijendijk tertanggal 10 Mei 1996 yang ditujukan kepada Kedeputatan Penterjemah Naskah – naskah Gerejani.

Penjelasan Mb. Ratoebandjoe mengenai asal mulanya pemisahan tersebut:
Di saat-saat akan terbitnya Perjanjian Baru “NA PARÁNDINGU BIDI”, keluhan orang-orang Kristen mengenai sulitnya membaca bahasa Kambera, disampaikan kepada Prof. Dr. L. Onvlee ahli bahasa Kambera yang telah kembali ke Belanda, supaya kalau boleh untuk membantu orang – orang yang sekolahnya tidak cukup dalam hal membaca bahasa Kambera, kata-kata panjang yang terdapat dalam “NA PARÁNDINGU BIDI” kiranya dapat dipotong- potong / dipisah-pisahkan penulisannya. Dengan demikian mereka dapat berminat membaca “NA PARÁNDINGU BIDI”. Bila tidak dipotong-potong / dipisah-pisahkan dikhawatirkan mereka akan kesulitan membacanya dan pada akhirnya malas untuk membacanya.

Apa tanggapan beliau? Beliau katakan “Tidak bisa. Mengapa bahasa Indonesia, bahasa-bahasa asing lainnya yang bukan bahasa Sumba bisa dipelajari dan lancar dibaca meskipun ada kata-kata yang panjang? Itu karena ada kemauan untuk mempelajarinya, begitu juga dengan bahasa Sumba Kambera harus ada kemauan untuk mempelajarinya, asal hati mau apa juga boleh jadi kata peribahasa”, kata beliau.
Kemudian ahli pendidikan Tuan J. L. Erkelens dan Prof. Dr. J. Wielenga dihubungi. Kedua beliau itu mendekati ahli bahasa kita itu.
Pada akhirnya Prof. Dr. L. Onvlee menyetujui pemotongan kata-kata yang panjang, tetapi tunggu dulu saya susun syarat-syaratnya jangan potong-potong sembarangan katanya.

Syarat-syarat itulah yang disampaikan oleh Ds P. J. Luijendijk kepada Kedeputatan Penterjemah Naskah-naskah Gerejani kala itu.
Berdasarkan latar belakang daripada pemotongan itu, maka dalam mengoreksi Naskah Alkitab bahasa Kambera “NA HURATU MATUA” di Bogor pada tahun 1994 s.d. 1995 mengenai pemotongan kata-kata yang panjang pada akhir baris, maka sesuai dengan jiwa syarat pemotongan itu, di akhir baris itu dapat berpindah tempat pemotongannya bila sisa 3 suku kata yang lanjutannya harus pindah ke baris berikutnya.

Contoh: ‘na – katangi’ pemotongan berpindah tempatnya sbb.
………………………………………………………………………………………………………………………… nakata-ngi.
Demikian sekedar pedoman untuk kita dapat menguasai penulisan dan penggunaan bahasa ibu kita di Sumba Timur.
Pada kesempatan ini tidaklah berlebihan kiranya jika saya menyinggung juga kesalahan-kesalahan dalam penggunaan bahasa daerah oleh kita karena pengaruh bahasa lain ataupun salah kaprah.

Contoh:

Sekian dan terima kasih.

Catatan (AWR):
– Nats-nats yang dijadikan rujukan di atas adalah nats dari buku Na Paràndingu Bidi (Perjanjian Baru; alih bahasa Oe. Hina Kapita, dkk)
– Penggunaan huruf dalam bahasa Sumba Kambera tanpa huruf : F, Q, S, V, X, dan Z.
– Setiap kata dalam bahasa Sumba Kambera selalu diakhiri dengan vokal (a, i, u, e, o), dan bukan diakhiri dengan konsonan
Contoh: padeningu (benar, betul) – bukan padening, paranggangu (hari pasar) – bukan paranggang.

Diketik ulang oleh: Agustinus W. Ratoebandjoe, S.Pd
di Lewa Kambu Hàpangu, 11 Maret 2017.
Semoga bermanfaat bagi kita etnis Sumba Timur
dan mereka yang membutuhkannya.

ecatalogadmin

Leave a Reply: