logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Belis

11 Jan

Belis

TRADISI BELIS DALAM BUDAYA SUMBA TIMUR
Oleh Ferdi Yulius Lukas dan Luh Putu Ayu Riska Widarmiati, S.S, M.A

Istilah pemberian mas kawin oleh pihak pria kepada pihak wanita di Sumba Timur disebut belis. Pemberian belis adalah tahapan terakhir dalam urusan kawin mawin (Lii Lalei – Lii Manguama). Belis adalah media yang digunakan oleh masyarakat Sumba Timur untuk menjalin relasi kekerabatan baru dan menjaga relasi kekerabatan yang telah ada. Belis merupakan bagian dari pada penghormatan pihak laki-laki kepada pihak perempuan dalam adat perkawinan suku Sumba. Belis bisa berupa ternak seperti kuda dan kerbau.

Belis bermakna sebagai pengganti sesuatu yang berharga dari pihak perempuan. Ketika pihak laki-laki mengambil seorang perempuan dari keluarganya, ada kekosongan yang harus diganti agar terjadi keseimbangan. Kekosongan itu diganti dengan barang berharga, termasuk di antaranya emas, kuda dan kerbau. Maka digunakan media belis dalam bentuk ternak yang harganya relatif tinggi. Namun sesungguhnya, jumlah ternak yang diberikan tidak saja semata-mata menunjukkan nilainya yang besar, tapi lebih kepada penghargaan kepada keluarga perempuan.

Tidak ada ketetapan tentang besarnya belis seorang wanita Sumba. Biasanya besarnya belis disesuaikan dengan kemampuan dari pihak laki-laki. Selain itu, sejarah relasi kekerabatan antara pihak laki-laki dan perempuan juga turut berpengaruh. Jika kedua belah pihak telah memiliki sejarah hubungan kawin-mawin sebelumnya, maka jumlah belis biasanya relatif tidak terlalu besar. Sebaliknya, jika keluarga laki-laki dan perempuan baru akan memulai hubungan kawin mawin maka jumlah belis yang ditetapkan relatif lebih besar. Namun, pada prinsipnya jumlah belis ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pihak laki-laki dan perempuan. Ada “batasan” tertentu dalam penetapan jumlah belis, tersirat dalam ungkapan “orang yang minta berlebihan itu orang miskin”. Selain itu ada kepercayaan bahwa jika seseorang meminta belis dengan jumlah yang tidak sesuai dengan kedudukannya maka perkawinan tersebut tidak akan diberkati dengan keturunan yang baik.

Besarnya belis akan dibicarakan melalui negosiasi adat yang biasanya memakan waktu satu hingga dua hari atau lebih tanpa jeda.
Pihak laki-laki mengetahui perkiraan jumlah belis (kamba) yang harus dibawa sejak kedatangan pertama pihak laki-laki ke keluarga pihak perempuan, yakni dalam tahapan pertama proses perkawinan yang disebut perkenalan atau ketuk pintu. Dalam pertemuan pertama tersebut secara tersirat akan dibahas mengenai belis yang harus dibawa pihak laki-laki yang disesuaikan dengan jumlah saudara laki-laki dan paman pengantin perempuan.

Setelah pertemuan pertama selesai dilaksanakan, kemudian pihak perempuan yang diwakili para laki-laki datang ke rumah pihak laki-laki (Lua Pa Pangga). Tujuannya untuk mencari tahu kemampuan dan kesiapan dari pihak laki-laki. Tanggal pelaksanaan dari lua pa pangga juga telah disepakati pada saat kedatangan pertama atau ketuk pintu pihak laki-laki ke pihak perempuan. Tanda kesepakatan tersebut diikat dengan menggunakan simbolisasi kain merah (Tera Kaha).

Tahapan Lua Pa Pangga sendiri dilaksanakan jika perkawinan terjadi dengan melibatkan keluarga baru yang sebelumnya tidak pernah terjalin hubungan kawin mengawin. Alasan tahapan ini dilakukan, karena pihak perempuan belum mengetahui kemampuan ekonomi dari pihak laki-laki. Namun jika relasi kekerabatan sudah pernah terjadi melalui perkawinan, maka tahapan lua pa pangga tidak akan dilakukan karena pihak perempuan sudah mengetahui kemampuan dari pihak laki-laki.
Proses pemberian belis akan dimulai saat pihak laki laki datang untuk yang kedua kalinya (jika relasi perkawinan sudah pernah terjadi sebelumnya) dan kedatangan yang keempat (jika relasi perkawinan belum pernah ada sebelumnya). Kamba diserahkan oleh wunang dari pihak perempuan. Kamba adalah permintaan jumlah belis dari keluarga perempuan yang disesuaikan dengan jumlah keluarga yang akan diberikan belis (utamanya paman dan saudara laki-laki yang perempuan).

Konsepsi pemberian belis juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu konsep puru dan puha. Puru terjadi jika hewan yang dituntut dapat dipenuhi semuanya dengan lunas pada hari itu juga. Sementara puha terjadi ketika pihak laki-laki belum dapat memenuhi semua tuntutan jumlah belis dan kemudian menjadi hutang. Hutang di sini tidak serta merta menjadikan laki-laki sebagai pihak yang harus segera membayarkan kekurangan belisnya. Kekurangan belis akan dipenuhi ketika pihak keluarga perempuan memiliki keperluan adat di kemudian hari (misalnya upacara kematian atau membayar belis). Pada saat itu, keluarga laki-laki akan datang membawa hewan yang merupakan sarana “pelunasan” belis.

Dalam pembayaran belis, puha (hutang) bahkan dianjurkan sebagai pengikat hubungan kekerabatan. Ketika ada “hutang” maka akan ada usaha untuk “membayar” melalui peristiwa-peristiwa adat. Dengan demikian relasi kekerabatan ditegaskan kembali. Akan tetapi pembayaran belis secara puru pun juga tidak mempengaruhi kualitas hubungan kekerabatan antara pihak laki-laki dan perempuan karena pihak laki-laki tetap memiliki kewajiban tertentu yang harus dipenuhi dalam hubungan kekerabatannya dengan pihak perempuan.
Pemberian belis yang berupa kuda dan kerbau oleh pihak laki-laki juga dibarengi dengan pemberian mamuli emas dan lulu amahu emas (kanataru). Dua media ini adalah media yang dianggap berpasangan dan memiliki nilai yang sama. Kuda dengan mamuli emas bisa saling menggantikan. Misalnya, pihak laki-laki membawa kuda maka tidak perlu membawa mamuli emas. Tetapi jika pihak laki-laki tidak membawa kuda maka bisa digantikan dengan mamuli emas. Mamuli sendiri merupakan perhiasan (ornamen) yang memiliki simbol gambaran rahim atau simbol kemampuan reproduksi wanita. Namun jika pihak laki-laki membawa kuda dan kerbau, maka ia juga harus membawa lulu amahu karena lulu amahu (rantai panjang yang menyimbolkan kesuburan laki-laki) seolah berfungsi sebagai tali yang mengikat hewan tersebut.

Pemberian belis dari pihak laki-laki ke pihak perempuan memiliki urutan sebagai berikut.
– Belis diberikan kepada orang tua kandung dari calon perempuan (Tanggu na ma paanangu) dalam tahap masuk minta, dengan membawa satu buah mamuli emas (ma pawiti) dan dan satu utas lulu amahu, satu buah mamuli emas (ma kamuluku) dan satu utas (lulu amahu) yang terbuat dari emas (kanataru). Mamuli dan lulu amahu sudah pernah diperlihatkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan ketika pihak perempuan pergi pangga. Selain itu, diberikan juga hewan yang berupa kerbau atau sapi.

– Belis selanjutnya diberikan kepada Kuta rara kaliti pangga (bagian paman) pada kedatangan ketiga (jika relasi perkawinannya baru terjadi) atau kedatangan kedua (jika relasi perkawinan sudah pernah terjadi). Belis ini diberikan sesuai dengan jumlah paman yang berhak menerima bagian. Jumlah paman yang mendapatkan belis sudah diketahui pihak laki-laki ketika kedatangan pertama mereka (masuk minta), yang disampaikan oleh keluarga perempuan. Tiap paman menerima satu buah mamuli emas (polos) dan satu utas lulu amahu, ditambah satu ekor kuda jantan cukup umur. Pamam (tuya) menyediakan kambanya yaitu satu lembar kain Sumba, dan satu lembar sarung Sumba.

– Berikutnya diberikan kepada Kuta rara aya na – kuta rara eri na (bagian saudara laki-laki). Ini juga disesuaikan dengan jumlah saudara laki-laki. Jumlah saudara laki-laki yang mendapatkan belis sudah diketahui pihak laki-laki ketika kedatangan pertama mereka (masuk minta), yang disampaikan oleh keluarga perempuan. Masing-masing saudara laki-laki menerima satu buah mamuli mas (polos) dan satu utas lulu amahu, ditambah satu ekor kuda umur satu tahun dan kerbau. Pemberian ini bisa langsung disetujui atau masih menuntut lebih banyak. Seperti halnya Tuya, saudara laki-laki yang berhak menerima belis juga menyediakan Kamba.

– Terakhir, belis akan diberikan kepada Ma pajurungu – ma pandalarungu (bagian tetangga). Ini juga disesuaikan dengan jumlah tetangga yang hadir dan menyediakan Kamba. Masing-masing mendapat satu buah mamuli emas atau perak, satu utas lulu amahu, dan satu ekor kuda jantan atau kuda betina. Pada tingkatan ini, umumnya tidak mutlak harus dibayar kontan, tetapi bisa berupa janji (=puha). Ada juga yang pantas diberikan mamuli emas, walaupun dia hanya termasuk tetangga, tetapi mempunyai kedudukan tertentu dalam adat, dengan ungkapan : Ta tungu wili ana, ta tungu wili ana wini.
Belis yang diberikan kepada tetangga sebetulnya bukan menjadi prioritas utama, karena yang paling utama terletak pada orang tua, paman (tuya), dan saudara laki-laki. Jika pihak-pihak lain di luar pihak utama yang dimasukkan keluarga perempuan sebagai kerabat yang akan menerima belis dari pihak laki-laki, itu hanya sebagai sebuah bentuk usaha pihak perempuan untuk bisa mendapatkan belis yang lebih banyak.

Ketika posisi perempuan sudah berpindah ke pihak laki-laki (pa palangu), dia akan membawa mbula ngandi-kahidi yutu (tempat bawaan) yang berisi pakaian, perhiasan, muti, dan barang-barang adat lainnya. Barang-barang ini semua merupakan hak pribadi dari anak perempuan itu, tidak perlu dibagi-bagikan lagi kepada anggota keluarga.
Mbula ngandi-kahidi yutu merupakan bawaan atau bekal yang diberikan keluarga pihak perempuan kepada calon pengantin perempuan pada saat menjadi warga baru di keluarga laki-laki. Bawaan ini diperoleh dari pihak bapak-ibu (pokok) yang berupa dua lembar kain kombu, dua lembar sarung tenun (lawu pahudu), satu nggelu ana hida (satu lingkar muti salak), satu pasang gelang gading (hamawangu) atau satu pasang gelang perak. Pihak paman memberi satu lembar kain kombu, satu lembar sarung tenun, dan satu leher atau satu tangan (kalung atau gelang) muti salak. Dari pihak saudara laki-lakinya (jika ada) yang berupa satu lembar kain kombu, satu lembar sarung tenun, dan satu utas muti salak. Dari pihak tetangga (jika ada) yang berupa satu lembar kain kombu dan satu lembar sarung tenun.
Hingga saat ini pemberian belis dengan tata cara dan urutan seperti yang telah dijelaskan diatas, masih dilaksanakan oleh masyarakat Sumba khususnya masyarakat Sumba Timur di wilayah Kambera.

Sumber:
Woha, Umbu Pora. Sejarah, Musyawarah dan Adat Istiadat Sumba Timur. 2008. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur.
Wawancara Marselinus Nggau Roti dan Umbu Remi Deta
Editor : Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

 

ecatalogadmin

Leave a Reply: