logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Jagung

11 Jan

Jagung

Jagung dalam Kehidupan Masyarakat Sumba Kambera

Oleh. Jefri Nono Malo

Jagung merupakan salah satu makanan pokok bagi orang Sumba Kambera. Jagung biasanya ditanam pada bulan Desember sampai bulan Januari ketika hujan mulai rutin. Pada musim kemarau jagung juga bisa ditanam dengan memanfaatkan lahan-lahan bantaran sungai (mondu) yang biasanya juga disebut sebagai jagung musim kemarau ( watar wandu). Selain jagung pada lahan kebun ada juga tanaman lain yang ditanam seperti ubi kayu dan kacang tanah. Panen jagung dilakukan pada bulan April sedangkan ubi kayu dan kacang tanah pada bulan Agustus.

Jagung yang telah dipanen akan dikeringkan dengan cara dijemur tanpa dikupas di terik matahari. Setelah kering jagung akan dipilah sesuai ukurannya. Jagung yang kecil akan digunakan untuk pakan babi dan ayam, sedangkan jagung yang besar (jagung terpilih dengan kualitas baik) adalah jagung yang akan dikonsumsi dan juga sebagai benih pada saat musim tanam berikutnya. Jagung besar tersebut akan diikat (randi) ujungnya secara berjajar dan sangat rapi dalam satu ikatan menggunakan seutas tali daun gewang (mburung). Dalam satu ikatan ini terdapat 50 sampai 100 buah tongkol jagung yang disebut karandi. Ikatan atau karandi dalam baitan (syair) adat orang Sumba Kambera mempunyai arti  yang sangat dalam yaitu “yang menyatukan/tidak terpisahkan”.

Orang Sumba Kambera mengenal beberapa cara untuk menyimpan jagung yaitu :

  1. Jagung disimpan di atas tungku perapian/bubungan rumah dengan maksud agar jagung tetap awet/tidak busuk. Jagung akan selalu terkena asap dapur dan juga panas dari bara api maupun seng rumah sehingga rayap atau kutu busuk tidak menyerang jagung tersebut.
  2. jagung yang dikarandi akan dililitkan pada batang pohon yang tinggi, berbatang lurus dan berkulit licin supaya tidak mudah dimakan babi, dimakan tikus atau dipatok ayam. Pohon yang biasa digunakan adalah pohon kelapa dan pohon kapok/randu

Jagung yang disimpan di atas tungku perapian rumah diperuntukkan sebagai bahan makanan sehari-hari karena mudah diambil , sedangkan jagung yang dililitkan pada batang pohon akan digunakan sebagai benih.

Ket: Jagung karandi yang dililitkan diatas pohon

Sering dijumpai orang-orang Sumba Kambera menyisihkan delapan tongkol jagung dan digantung di rumah sebagai simbol penjaga rumah.  Jika tidak menyisakan delapan tongkol jagung tersebut maka diibaratkan seperti menunggu buah pemikiran orang lain baru bisa berbicara.  Artinya, sebuah rumah tangga selalu berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain yang disimbolkan dengan jagung tersebut.

Ket: Jagung terpilih yang akan dijadikan bibit, biasanya di simpan pada tiang rumah

Dulu biasanya masyarakat Sumba – Kambera akan membawa jagung ke Lewa untuk menukarnya dengan padi. Lewa adalah daerah subur di tengah Pulau Sumba yang cocok ditanami padi. Barter antara kedua masyarakat yang tinggal dengan situasi geografis yang berbeda ini juga merupakan salah satu cara bertahan hidup bagi orang Sumba.

Jagung bisa diolah menjadi berbagai macam makanan. Salah satunya nasi jagung. Sebelum dimasak jagung dihaluskan dengan cara titi (menumbuk butir demi butir jagung kering dengan batu (watu peana)). Di masa kini sudah banyak penggilingan dengan mesin pemipil jagung. Jagung titi dihaluskan kembali dengan menggunakan lesung dan dicampur dengan beras untuk dimasak menjadi nasi jagung.

Selain nasi jagung, masyarakat Sumba – Kambera juga mengolah jagung menjadi kaparak dan mandawa. Kaparak merupakan campuran jagung goreng, kelapa parut goreng dan kacang goreng yang dihaluskan sedangkan mandawa merupakan olahan jagung goreng dan kacang goreng yang dicampur dengan gula merah dan dibungkus dengan daun pisang. Mandawa adalah adonan tepung (bisa beras, jagung, ubi kayu, keladi) yang telah dicampur kacang tanah lalu diulik dengan gula merah. Mandawa sering dikonsumsi dalam upara adat Pamangu (ritual mengantar arwah orang mati kepada pencipta) sesuai dengan kepercayaan asli masyarakat Sumba yakni Marapu.

Narasumber:

  1. Ruben Pulungtana
  2. Umbu Palanggarimu.

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: