logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Kaparak

11 Jan

Kaparak

Kaparak (Makanan Tradisional dari Jagung dan Kacang)

Oleh. Ferdi Yulius Lukas

Kaparak terbuat dari jagung dan kacang tanah. Jagung yang dipilih biasanya jagung pulut dan jagung lokal yang rasanya legit tapi tidak terlalu manis. Jagung dan kacang tanah adalah tanaman pangan di Sumba yang tumbuh dengan baik. Dua bahan makanan ini, selain beras, adalah bahan makanan utama di Sumba.

Untuk membuat kaparak, jagung dan  kacang tanah digoreng tanpa minyak hingga matang. Setelah itu ditumbuk menggunakan lesung hingga halus. Setelah itu masukkan campuran jagung dan kacang tanah tumbuk ke dalam toples atau mbualla  dan siap dimakan kapanpun.

Kaparak biasanya menjadi makanan yang disantap bersama kopi di pagi maupun di sore hari. Tak jarang juga kaparak menjadi  bekal ke kebun  sebagai makanan ringan penunda lapar. Pada jaman dahulu kaparak juga digunakan sebagai bekal bagi orang Sumba dalam melakukan perjalanan jauh dengan kuda.

Ada beberapa jenis kaparak, yakni yang terbuat dari jagung dan gula pasir, yang terbuat dari jagung dan kacang tanah serta dari beras dan kelapa.

Daya tahan kaparak pun bisa sampai berbulan bulan tanpa pengawet, namun kaparak yang terbuat dari beras dan kelapa biasanya hanya bertahan beberapa hari saja.

Pada masa kini, kaparak sudah mulai diproduksi dengan cara modern dan diproduksi sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Sumba. Jika jaman dahulu bahan-bahan kaparak ditumbuk mengunakan lesung hingga halus,  sekarang sudah ada yang digiling menggunakan mesin. Menurut beberapa orang rasa kaparak yang di tumbuk mengunakan lesung jauh lebih enak di bandingkan mengunakan alat giling.

Kaparak menunjukkan bagaimana orang Sumba memanfaatkan sumber dayanya (jagung, kacang tanah, beras) untuk melangsungkan kehidupan sebaik mungkin. Kaparak juga menunjukkan usaha pengawetan makanan, usaha bertahan hidup dengan memanfaatkan makanan sebaik mungkin di tengah alam yang keras.

Narasumber: Ndai Mbati

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: