logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Katiku Ahu

11 Jan

Katiku Ahu

Katiku Ahu

Oleh. Grace Ndapamuri

Katiku Ahu adalah salah satu permainan tradisional anak-anak Sumba Kambera yang dalam  Bahasa Indonesia berarti kepala anjing. Mengapa disebut demikian akan kita ketahui setelah pembahasan tentang bagaimana permainan ini dimainkan.

Permainan ini bisa dimainkan secara berkelompok maupun individu sesuai dengan kesepakatan para pemain. Pengaturan giliran bisa dilakukan melalui suten atau berdasarkan kesepakatan para pemain.

Untuk memainkannya diperlukan sebilah kayu sebesar jari telunjuk. Kayu tersebut dipotong menjadi dua bagian. Satu bagian sepanjang satu setengah jengkal tangan anak-anak atau sekitar 20 -25 cm sedangkan bagian lainnya sepanjang 45 cm atau sepanjang lengan anak-anak. Di masa lalu orang-orang menggunakan kayu lawunggu, tetapi di masa kini bisa menggunakan kayu apapun asal kuat dan tidak mudah patah. Kayu yang pendek diletakkan di atas lubang berbentuk perahu di tanah. Kayu ini akan dilentingkan dan dipukul dengan kayu yang lebih panjang untuk ditangkap oleh lawan. Posisi kayu yang akan dipukul akan sedikit menjorok dari lubang dan menurut orang-orang di masa lalu ini terlihat seperti kepala anjing. Dari sinilah sebutan kepala anjing atau katiku ahu berasal.

Jarak antara lubang dengan lawan yang akan menangkap kayu kurang lebih sekitar 10-15 meter. Sebenarnya tidak ada perhitungan khusus tentang jarak antara lubang dan pemain lain. Menurut narasumber itu hanya diperkirakan oleh pemain sendiri menurut jauh tidaknya kayu tersebut bisa dilentingkan. Karena jika terlalu jauh maka akan kesusahan menangkap kayu dan jika terlalu dekatpun akan bisa berbahaya terkena kayu.

Yang berhasil menangkap kayu yang sudah diungkit akan mendapatkan  poin. Sementara yang berhasil mengungkit kayu hingga jarak yang jauh yang tidak dapat ditanggap juga akan mendapat poin.

Perhitungan poin disepakati oleh kedua belah pihak.

 

Gambaran cara bermainnya adalah sebagai berikut :

 

  1. Kayu diletakkan diatas lubang lalu lentingkan.

b.Jika pemain A melentingkan kayu dan dapat ditangkap oleh pemain B maka pemain B mendapat poin dasar yang telah disepakati.

  1. Pemain A kemudian meletakkan kayu pemukul diatas lubang lalu pemain B akan melemparkan kembali kayu dan diusahakan mengenai kayu pemukul diatas lubang.
  2. Jika pemain B berhasil melempar kayu dan mengenai kayu pemukul maka posisi akan bertukar, pemain B akan menjadi pemukul dan pemain A menjadi penerima kayu bersama pemain lain. Dan kembali ke poin 1.
  3. Jika pemain A melentingkan kayu dan tidak dapat ditangkap oleh pemain lain, maka pemain A mendapat poin dengan cara menghitung menggunakan kayu pemukul dari lubang sampai pada tempat jatuhnya kayu.
  4. Kemudian kayu diletakkan didalam lubang dengan memastikan sebagian kayu menjorok keluar lubang sehingga bisa dipukul ujungnya.
  5. Pemain A kemudian memukul ujung kayu sehingga kayu melanting sampai setinggi dada lalu kemudian dipukul melambung ke arah pemain lainnya.
  6. Jika pemain lain dapat menangkap kayu yang dipukul maka pemain tersebut mendapatkan poin, dan dapat bertukar posisi menjadi pemukul.
  7. Jika kayu yang dilempar tidak dapat ditangkap maka pemukul yang mendapat poin dengan cara pengukuran pada poin 5.

 

Permainan ini menyenangkan dan seru karena para pemain berusaha untuk memperebutkan 1 bilah kayu, sehingga tak jarang di saat akan menangkap kayu pemain yang satu akan bersenggolan dengan pemain lainnya. Permainan ini juga membutuhkan kecakapan dan strategi dalam memukul kayu agar kayu tersebut dapat dipukul sejauh mungkin atau menyerang titik buta lawan sehingga tidak dapat ditangkap oleh pemain lain. Begitu juga pada lawan yang harus memikirkan strategi agar dapat membaca arah kayu sehingga kayu tersebut dapat ditangkap. Melalui permainan ini juga anak-anak dapat belajar untuk berhitung.

Menurut narasumber, permainan Katiku Ahu telah jarang ditemukan di daerah perkotaan tetapi masih dapat dijumpai didaerah pedesaan. Hal ini  mungkin disebabkan oleh kurangnya lahan luas yang ideal untuk memainkan permainan tersebut.

 

Nara sumber: Agustinus Ndapamuri

Editor: Ami Priwardhani


Posisi kayu saat akan dilentingkan


kayu yang berhasil ditangkap akan dilempar kembali pada pemukulnya


Ekspresi pemain saat berebut menangkap kayu


mengukur poin setelah berhasil menangkap kayu

Pembagian urutan bermain


memukul kayu

Memukul kayu

ecatalogadmin

Leave a Reply: