logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Kegunaan Kain Tenun

11 Jan

Kegunaan Kain Tenun

Makna dan Kegunaan Kain Tenun Ikat*

Oleh. Margaretha Dj. Tara

Kain tenun ikat di Sumba dianggap sebagai harta yang bernilai tinggi, karena posisinya dianggap setara dengan ternak, emas dan perak. Kain tenun dipertukarkan di antara kabihu (clan/marga) dalam upacara-upacara yang menandai tahapan hidup anggota kabihu tersebut. Dengan demikian kain tenun menandai hubungan kekerabatan dan posisi seseorang dalam kekerabatan tersebut.

Dalam kesehariannya, kain tenun ikat digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Kain untuk laki-laki disebut hinggi, sedang untuk perempuan disebut lawu yang berupa sarung. Kain yang digunakan sehari-hari adalah hinggi patinu mbulungu (kain tanpa jahitan tengah) dan hinggi kawuru (kain berwarna biru). Pakaian adat Sumba untuk laki-laki sendiri terdiri dari tiara (ikat kepala), dua helai hinggi (sehelai dililitkan di pinggang dan sehelai digantungkan di pundaknya) dan rohu banggi (ikat pinggang). Sedangkan pakaian untuk perempuan berupa lawu (sarung) dan kebaya atau atasan lainnya.

Kain tenun merupakan bagian penting dalam upacara perkawinan. Keluarga laki-laki akan memberikan mas kawin berupa mamuli dan hewan ternak. Sebagai balasannya, keluarga perempuan akan memberi kain (hinggi) dan sarung (lawu) yang jumlahnya tergantung pada kemampuan keluarga bersangkutan. Adakalanya sebelum pernikahan kedua belah pihak memberi tanda ikatan (kawuku). Keluarga perempuan memberi hinggi dan lawu kepada keluarga laki-laki dan sebaliknya keluarga laki-laki akan memberi dua perhiasan mamuli dan lulu amahu serta 2 ekor kuda.

Kain tenun juga digunakan sebagai pembungkus jenasah dalam upacara penguburan Marapu. Dalam bahasa Sumba Kambera kain pembungkus jenasah disebut yubuhu dan dibedakan menjadi dua bagian yakni kain jenasah yang di tanah (yubuhu la tana) yang dikuburkan bersama jenasah dan kain jenasah yang di bale-bale (yubuhu karandi) yakni ketika jenasah dimasukan ke keranda dengan posisi duduk. Pembungkus jenasah laki-laki berupa hinggi sedangkan perempuan lawu. Melalui motif dan warnanya, kain tenun dipercaya menunjukkan identitas yang meninggal agar dikenali oleh leluhur serta melindungi yang meninggal dalam perjalanan selanjutnya menuju alam baka[1].

Pada masa lalu, kain tenun ikat digunakan sebagai alat tukar menukar. Bila seseorang membutuhkan kain, maka ia dapat pergi pada orang yang memilikinya dan menukarkannya dengan emas, perak atau hewan ternak. Nilai barang yang ditukar tergantung pada kualitas dan kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan barter. Kain tenun juga diberikan kepada kerabat maupun kenalan ataupun yang bukan kerabat jika ada peristiwa penting seperti kelahiran anak, pernikahan atau kematian. Untuk laki-laki, hadiah yang diberikan berupa kain (hinggi), sedangkan perempuan berupa sarung.

*Tulisan ini juga bersumber pada buku Sejarah, Budaya dan Motif Kain Sumba, Muatan Lokal Kelas 4 SD Semester 1, tanpa informasi pengarang, penerbit dan tahun terbit.

Editor: Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

ecatalogadmin

Leave a Reply: