logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Kuda

11 Jan

Kuda

Kuda

Oleh Alfred Lay

Kuda memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Sumba. Penting, karena kuda menjadi sumber mata pencaharian secara turun temurun dan sebagai media untuk menjalani serta mempertahankan budaya. Sebagai sumber mata pencaharian, kuda memiliki nilai jual yang tinggi walaupun harga tidak semahal babi. Sebagai media dalam prosesi adat, kuda memiliki makna yang berbeda. Begitu pentingnya peran kuda, maka masyarakat hingga saat ini masih terus membudidayakan pemeliharaan hewan tersebut dengan cara berternak.

Pada proses adat perkawinan, kuda digunakan sebagai belis (mas kawin) dengan jumlah yang besar.  Penggunaan kuda sebagai belis melambangkan kejantanan, kerja keras dari pihak laki-laki dan sebagai bentuk penghargaan keluarga laki-laki terhadap perempuan. Semakin banyak kuda yang berhasil dibawa atau jika pihak laki-laki bisa memenuhi permintaan keluarga perempuan, maka pihak laki-laki akan sangat dihargai. Jadi hewan kuda menjadi simbol kemampuan secara materi.

Pada proses adat kematian, kuda digunakan sebagai media dalam ritual dan media pertukaran adat untuk mempertahankan relasi kekerabatan. Dalam prosesi ritual, kuda digunakan sebagai tunggangan papanggangu (orang yang dipilih keluarga yang meninggal untuk mengantarkan jenasah ke kubur) atau menjadi simbol tunggangan yang meninggal menuju Prai Marapu. Kuda juga disembelih sebagai korban yang diyakini akan dibawa oleh yang meninggal untuk dipelihara di Prai Marapu. Dalam prosesi adat kematian, kuda menjadi barang bawaan yang akan dipertukarkan setelah ritual kematian selesai.

Kuda yang diternakkan di Sumba terdiri dari dua jenis, yaitu kuda peliharaan (yang biasanya digunakan untuk keperluan adat) dan kuda pacu. Ada kuda peliharaan yang diikat, tapi ada juga yang dilepas di padang rumput (savanna). Kuda yang diikat biasanya diberi rumput oleh pemiliknya sedangkan kuda yang dilepas akan mencari makanannya sendiri.

Kuda yang dibiarkan berkeliaran bebas, akan ditarik jika dibutuhkan saja. Tujuannya untuk mempertahankan sifat asli kuda sehingga ia bisa berkembang secara alami. Selain itu, kuda dilepaskan bebas karena pasokan rumput di alam bebas lebih banyak sehingga memudahkan peternak dalam memeliharanya.

Biasanya kuda yang dilepas memiliki daerah ‘jelajah’ yang tetap sehingga pemiliknya tidak akan kesulitan mencari di mana kuda itu pergi. Biasanya pemilik kuda akan memberikan tanda pengenal berupa cap di badan kuda. Cap pada pipi kanan kuda menandakan dari mana kuda berasal, sedangkan pada paha kanan depan menandakan di mana kuda itu berada sekarang. Misalnya kode D 03 yang berarti D adalah kode kecamatan, sedangkan 03 berarti kode kelurahan. Cap pada paha belakang menandakan pemilik kuda yang biasanya berupa nama pemilik.

Nara sumber: Yohana Bili

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: