logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Motif Kain

11 Jan

Motif Kain

Motif Kain Tenun Ikat Sumba Timur dan Maknanya

Oleh. Margaretha Dj.Tara; dengan tambahan dan koreksi Drh.Palulu P.Ndima, MSi

Motif kain tenun ikat Kambera dengan wilayah lainnya yang ada di Sumba Timur sangat berbeda. Hal ini disebabkan setiap daerah memiliki cirinya sendiri dalam gambar. Bila dilihat dari objek yang digambar, motif tenun ikat Sumba Kambera digolongkan atas 3 bagian yakni, kelompok figuratif yaitu simbol dari bentuk manusia dan binatang. Kelompok skematis yaitu menyerupai rangkaian bagan yang cenderung geometris. Kelompok ketiga yaitu kelompok yang terbentuk dari pengaruh bangsa asing seperti motif salib, singa, mahkota, wihelmina, corak patola (kain India) dan naga (China).

Motif, warna dan cara menenun juga menunjukan asal wilayah, keluarga atau marga yang membuatnya. Beberapa motif khusus seperti patola ratu, buaya dan penyu pada zaman dahulu hanya boleh dikenakan oleh kaum bangsawan. Namun saat ini motif khusus tidak lagi terlalu perlu diperhatikan. Semua orang boleh memakainya sesuai apa yang disukainya. Berdasarkan sejarah masyarakat Sumba, dikatakan bahwa leluhur orang Sumba berasal dari India yang kemudian melewati Bima. Saat pelayarannya, mendapatkan bibit kapas. Ketika singgah di Manggarai (Ambarai) para leluhur memperoleh hadiah kain Ruukudama, dimana pola kain tenun sisanya masih ditemukan di desa Hambapraing.

Beberapa motif kain tenun Sumba Timur beserta maknanya

  1. Motif kuda (Njara)

Motif kuda yang diletakkan pada bidang kain berlatar warna merah merupakan simbol kejantanan, keberanian, ketangkasan dan kepahlawanan (njara ndindi kiku kajeki njara Lewangu  – kuda yang tegak ekor – tangkas seperti kuda Lewa). Berbeda makna jika corak kuda diletakkan pada bagian kain berlatar warna biru, menyimbolkan keagungan, kebesaran, kebanggaan dan status sosial (prestis).

 

Motif kuda juga melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan seperti yang dinyatakan dalam ungkapan njara bara kundu, ma nainahu la lakuna, miniromba rara ma ndidaru kajiana – kuda belang bahu tenang jalannya, kerbau jantan merah rata belakangnya. Ini juga menunjukkan betapa Sumba Timur adalah wilayah atau lingkungan alam yang sesuai untuk penggembalaan kuda seperti yang dinyatakan dalam moto Kabupaten Sumba Timur (matawai amahu, pada njara hamu yang berarti sumber emas dan padang penggembalaan kuda yang baik).

 

  1. Motif ayam (Manu).

Ini melambangkan kesadaran, cepat tanggap/bertindak mengatasi masalah yang dihadapi, kejantanan dan tanda kehidupan.

 

Wejangan/nasehat (panaungu) pihak tuya (saudara laki-laki pihak ibu) kepada perempuan Sumba yang akan menikah adalah untuk memelihara ayam dan babi untuk kebutuhan hidup (ambu ma rombanya na karunggu panni manu, na utta uhu wei, yang artinya jangan melupakan menir makanan ayam, dedak makanan babi)

 

Ayam sebagai simbol kesadaran ditunjukkan dalam ungkapan puru la tana ba ndedi puru da manu yang artinya turun dari balai-balai rumah sebelum ayam turun dari bubungan rumah ke tanah.

 

Sementara itu, ayam sebagai simbol kejantanan ditunjukkan dalam ungkapan manu wulu ma hakuku (ayam jantan yang berkokok) yang merupakan kiasan dari pemimpin yang perkasa namun bijaksana.

 

Ayam sebagai simbol tanda kehidupan ditunjukkan dengan ungkapan manu ma hakuku – wei ma kanguku, ayam jantan yang berkokok – babi yang mendengus. Sedangkan dalam keadaan tidak ada lagi pemimpin dalam satu kelompok masyarakat atau marga ditunjukkan dengan ungkapan nda ningupa manu ma hakuku, wei ma kanguku (tiada lagi ayam yang berkokok, tiada lagi babi yang mendengus).

 

Ayam juga merupakan simbol sosok pemimpin yang melindungi, mengayomi dan rela berkorban bagi masyarakat yang dipimpinnya, seperti ditunjukkan dengan ungkapan Ama Manu – Ina Rendi (bapak ayam, induk belibis).

 

  1. Motif Burung Kakatua (Kaka)

Motif ini menggambarkan rasa persatuan dan kesatuan, pengambilan keputusan melalui jalan musyawarah untuk mufakat. Burung kakatua selalu terbang dan hinggap berkelompok dan digambarkan melalui ungkapan bahasa Sumba Kambera kaka ma kanguhuru – pirihu pa uli (kakatua yang berkelompok, nuri yang berkawan).

Selain itu motif ini juga menggambarkan nasehat dan peringatan agar waspada terhadap oerang-orang yang menyebabkan hal-hal yang menyebabkan kericuhan dan kerusuhan dalam kehidupan masyarakat, seperti yang digambarkan dalam ungkapan ambu kaka ngandi undi – ambu manginu ngandi rota (jangan menjadi kakatua pembawa jelatang, jangan menjadi burung pipit pembawa penyebab gatal)

  1. Motif Manusia

Motif ini berfungsi sebagai penolak kejahatan, lambang nenek moyang dan kesaktian. Corak manusia menggambarkan citra manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Corak manusia telanjang menggambarkan wujud manusia yang berada dalam suasana kesendirian, kepolosan, ketakutan dan kemiskinan. Ini juga merupakan gambaran manusia yang bertarung dengan kehidupan di dunia dan memohon kebahagiaan dari Tuhan seperti dalam ungkapan karai panamungu la mawulu tau majii tau yang artinya memohon belas kasihan pada pencipta manusia.

Motif manusia juga merupakan simbol nenek moyang atau leluhur Suku Sumba. Manusia di hadapan Sang Pencipta tidak ada yang tersembunyi, karena Tuhan adalah Maha Melihat dan Maha Mendengar, seperti dalam ungkapan ninya na mabokulu wua matana – na ma mbalaru kahiluna (ada yang besar biji matanya – yang lebar telinganya).

 

Selain itu, motif manusia juga merupakan simbol Maha Pencipta, seperti dalam ungkapan  na ma bokulu wua matana – na ma mbalaru kahiluna, na ma wulutanga mata – kalinda uru na ma hangatu rii lima, yang berarti yang besar biji matanya, yang lebar daun telinganya atau maha melihat dan maha mendengar, yang membentuk alis mata dan tulang hidung, yang menyayat tulang kaki dan tulang tangan.

 

  1. Motif Tugu Tengkorak Manusia (Andungu Katiku Tau)

Merupakan simbol keberanian, kepahlawanan dan kemenangan. Lambang panji yang menggugah semangat juang pahlawan dalam perang terbuka (penji ma pakeru – landu ma pajuki)

 

  1. Motif Rusa (Ruha)

Melambangkan kebijaksanaan pemimpin yang memperhatikan kesejateraan masyarakat yang dipimpinnya. Selain itu, motif ini juga melambangkan keberanian pemimpin untuk bertindak dan bijaksana dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

 

Rusa juga simbol keagungan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin  seperti dalam ungkapan pa janggi kadu ruhangu – pa rara mata mandungu (tinggi seperti tanduk rusa – merah seperti mata ular) yang bermakna bijaksana dan berani dalam memimpin).

 

Rusa juga merupakan simbol sesuatu yang melindungi dan mengayomi, seperti dalam ungkapan na ma opangu madangu – na ma mari nggingu harata (yang melingkupi yang banyak – yang melindungi yang berlaksa).

 

  1. Motif Udang (Kurangu)

Melambangkan persaudaraan dan persatuan, seperti dalam ungkapan kura angu kundukarungu angu londa yang artinya udang kawan berpundak, kepiting teman bergandeng.

 

Motif ini juga menggambarkan kepercayaan leluhur orang Sumba bahwa di balik kematian ada kehidupan baru, pengharapan akan hidup kekal atau ada perubahan kehidupan yang berbeda dari kehidupan yang sekarang. Ungkapan dalam bahasa Sumbanya adalah njulu la kura keku – halubu la mandu mara yang berarti menjelma seperti udang, mengelupas seperti ular darat.

 

Motif ini juga simbol pemimpin yang sikap dan perilakunya matang atau dewasa seperti dalam ungkapan kura miti ndolu – karungu rara kaba (udang hitam jepitan -kepiting merah kulit/tempurung). Juga menunjukkan sifat manusia yang kata dan perbuatannya tidak sesuai seperti dalam ungkapan kura laku dalungukambuku lindi pinungu (udang berjalan bagian dasar, ikan berenang di permukaan).

 

  1. Motif Ular (ularu, mandu)

Symbol dunia bawah air, mewakili pihak perempuan. Selain itu merupakan simbol kesombongan, keangkuhan, watak yang melambangkan sifat manusia yang suka berbelit-belit, penuh amarah, pendendam, selalu mencari kesempatan untuk mengalahkan lawan-lawannya. Sifat ular yang dijadikan padanan kata pelengkap untuk rusa tercermin dalam ungkapan pajangga jadu ruhangu, pa rara mata mandungu yang artinya tinggi seperti tanduk rusa, merah seperti mata ular.

 

  1. Motif Buaya (wuya) dan Kura-kura (karawulangu)

Buaya selalu dihubungkan dengan kesaktian dan merupakan simbol kebesaran raja dan bangsawan. Juga merupakan simbol pengaruh dan keagungan seperti dalam ungkapan ana wuya rara ana karawulangu (anak buaya merah, anak kura-kura sisik) atau rumbing kandapu – wuya tadanu, karawulangu wuya rara – ana awangu paliti, yang merupakan sebutan untuk raja.

 

  1. Motif Burung Pesisir (Kahuhu)

Motif ini merupakan simbol dunia atas serta melambangkan kelincahan dan ketangkasan dalam mencari nafkah, bersikap dan bertingkah laku. Ungkapan dalam bahasa Sumbanya pa ka nyunyuku kahuhungu – kahuhu libu muru, pa karajaku karatangu – na karata hingi wara (beriringan seperti burung laut/camar atau kahuhu yang mencari ikan di laut dalam, berlari sambil lompat kecil; burung laut mencari ikan atau udang kecil di tepi pantai berpasir).

 

Burung pesisir juga merpakan lambang waktu, memberikan tanda semakin dekatnya musim penghujan dan pertanda alam bahwa panen akan berhasil.

 

  1. Motif Cicak Terbang (Habaku atau Kumbulai Hawurung)

Motif ini merupakan nasihat bahwa manusia memerlukan persiapan materi/modal untuk untuk kesejahteraan jasmani di dunia seperti ditunjukkan dalam ungkapan na mataku habaku yang berarti datangnya tiba-tiba, tak direncanakan.

 

  1. Motif Bunga Dedap (Karihu)

Merupakan simbol perempuan, stilasi penampang alat reproduksi wanita (indung telur) yang digambarkan secara berpasangan. Motif bunga juga merupakan simbol ungkapan keibuan dari yang ilahi, yang selalu diucapkan sebagai manusia yang berpasangan dan disapa Ina-Ama (Ibu-Bapak) yaitu Ina Lodu – Ama Wulang (Maha Ibu Matahari – Maha Bapak Bulan), Ina Mbulungu – Ama Mbulungu (Maha Ibu Esa – Maha Bapak Esa), Ina Lekurungu – Ama Lekurungu (Ibu Bersama – Bapak Bersama), Ina Pakawurungu – Ama Pakawurungu (Maha Ibu Seluruh – Maha Bapak Seluruh), Ina Ndewa _ Ama Ndewa (Ibu Dewa – Bapak Dewa).

 

  1. Motif Perahu (Tiana)

 

Merupakan simbol tata ruang sebuah perkampungan tradisional atau paraingu sebagai pusat perumahan kabihu-kabihu atau marga.

 

Motif perahu juga simbol penghayatan dari kerjasama dan kesatuan para leluhur dalam sebuah perahu sejak perjalanan panjang mereka dari Semenanjung Malaka melintasi pulau-pulau besar dan kecil dengan terpaan angin dan gelombang hingga akhirnya mendarat dengan selamat di pantai daratan Pulau Sumba berkat perlindungan dan pertolongan Sang Ilahi.

Berikut ini adalah motif- motif atau corak yang dipengaruhi budaya luar:

 

  1. Motif Patula Ratu

Corak Patuala Ratu berbentuk geometris yang sambung menyambung, kait mengait, simetris, serasi dan indah. Garis-garis geometrisnya jalin menjalin satu sama lain. Motif geometris melambangkan hubungan manusia dengan sesamanya dan lingkungannya dan menuntun masyarakat adat untuk bertingkah laku sesuai tatanan nilai dan keyakinan yang dianut.

Kain patuala adalah kain sutera dewangga berasal dari India yang dianugerahkan oleh Maharaja Jawa kepada raja-raja wilayah di Sumba yang merupakan simbol bahwa pengaruh kerajaan Majapahit dirasakan sampai di Sumba. Dalam perkembangannya direduksi sebagai simbol kepemimpinan kaum bangsawan dan menunjukkan status sosial kaum bangsawan (Hundarangga ruu patuala).

Corak ini hanya boleh dipakai oleh para imam yang mengemban tugas pada upacara kematian kaum bangsawan dan raja. Kain bercorak ini menempati posisi yang paling tinggi dalam upacara kematian dibandingkan dengan kain corak lainnya.

Corak ini juga merupakan lambing “nirwana” atau surga yang dalam Bahasa Sumba disebut sebagai Paraingu Mahambila Maharandaku atau Paraingu MapauliParaingu Mapatara (negeri yang bercahaya – terang benderang, negeri yang bertanduk dan bertaring). Ungkapan itu memiliki makna tempat bertahtanya Sang Ilahi (Tuhan), penuh cahaya kemuliaan dengan segala keperkasaan, kejayaan dan keagungan tiada tara.

 

Bersama dengan Lawu Nderi, kain bercorak Patula Ratu merupakan lambang “kain sarung pembungkus tubuh manusia pertama” yang telah jatuh ke dalam dosa. Kedua jenis kain ini tidak sembarang waktu dan tempat dapat dipertontonkan atau diperlihatkan di muka umum kecuali pada upacara/pesta perayaan “Pamangu Ndewa” atau Perjamuan Dewa. Pada upacara ini, kain dapat dipegang atau direntangkan sementara para penari berbaris melingkar (Renja Pau) sambil menyanyikan lagu religious budaya Sumba yang mengisahkan kejatuhan manusia pertama dalam dosa serta kasih dan kemurahan Tuhan mengadakan atau mengikat sebuah “Perjanjian Rahmat” dengan manusia berdosa seperti dalam ungkapan Lii Tura – Lii Njanji, Lii Lakunda – Lii Lawadi atau perjanjian teguh dan mantap.

 

Pada waktu penguburan jenasah seorang bangsawan (turunan Ratu dan Maramba), kain patuala ratu diperlihatkan saat memayungi jenasah ketika jenasah tersebut dibawa ke kuburan karena kain tersebut diyakini sebagai lambang dari negeri yang kekal (nirwana).

 

  1. Corak Ular Naga

Corak ini sebelumnya tidak ada di Sumba, naga merupakan corak asli masyarakat China yang di kenal melalui guci-guci keramik yang masuk ke sumba pada abad 16. Motif ular naga merupakan bukti bahwa telah adanya hubungan perdagangan dengan dunia luar terutama China. Barang yang dipertukarkan pada masa itu adalah kayu cendana.

 

  1. Corak Singa (Mahang)

Corak ini merupakan pengaruh gaya Renaisans di Eropa yang datang ke Indonesia melalui budaya Hindu. Ini menunjukkan bahwa sejal dahulu masyarakat Sumba telah mengenal hubungan dengan dunia luar. Motif ini ditiru dari gambar singa yang ada pada uang Belanda (Mahang appa uki)

 

  1. Corak Gajah

Gajah tidak ada di Sumba dan ini menandakan bahwa pada masa lampau telah ada interaksi dagang dengan dunia luar yang mengekspor gading ke Sumba.

 

  1. Corak Liakat (Panongu Hei – Panongu Puru, Tangga Naik – Tangga Turun) atau Patuala Kamba

 

Corak Liakat menggambarkan tangga naik (panongu hei) dan tangga turun (panongu puru) dalam pemahaman Marapu. Corak Liakat adalah simbol pengaruh budaya dan agama India. Konsep ketuhanan Hindu dan Budha mengenal jalan dua arah yakni “Tuhan” turun kepada manusia dan manusia naik kepada “Tuhan”. Ajaran “naik” dan “turun” dalam penyatuan manusia dengan Tuhan terdapat dalam ajaran Tantra yang dan telah dikenal di Indonesia sejak abad VIII sampai XI.

 

Corak liakat atau patuala kamba direduksi dalam simbol lokal dan menjadi trade mark Rambu Dai Ataluda di Jangga Rangu, Kelurahan Kawangu, Kecamatan Pandawai.

 

  1. Motif Mahkota dan Ratu Wilhelmina/Pangeran Hendrik

Di desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, corak ini diambil dari sapu tangan yang dihadiahkan oleh Sekretaris Jendral Pemerintahan Hindia Belanda di Jakarta kepada kemenakan Raja Landschap Mangili. Di luar wilayah Kaliuda (Kambera, Kanatang, Rindi, Umalulu) diambil dari mata uang Inggris Poundsterling tahun 1816 dan mata uang Belanda.

Adanya corak ini merupakan simbol bahwa pengaruh penjajahan Belanda sampai di Sumba dan hubungan perdagangan dengan dunia luar telah dikenal oleh masyarakat Sumba. Dalam perkembangannya corak ini direduksi sebagai simbol kepemimpinan, kebangsawanan dan status sosial kaum bangsawan.

Corak mahkota juga merupakan simbol hubungan perdagangan dengan dunia luar. Sejak abad XVI dikenal hubungan perdagangan dengan bangsa Portugis, Spanyol, China, Arab, Perancis dan Inggris. Kayu cendana, kayu merah, kayu kemuning, kayu eben, kain tenun ikat dan kuda ditukar dengan kain, barang pecah belah, manik-manik (muti), parang dan pisau. Dari orang Inggris (Tau Murihu) mereka memperoleh mata uang Poundsterling (Matimbi) dan Dukaton (likatongu). Dari orang Eropa mereka juga memperoleh meriam dan mesiu yang dipergunakan dalam peperangan antar kabihu (marga). Pada masa tidak ada lagi perang saudara, meriam tembak buatan Portugis digunakan untuk melakukan tembakan salvo (penghormatan) pada penguburan para bangsawan dan raja.

 

Nara sumber: Palulu P. Ndima

Editor: Luh Putu Ayu Riska Widarmiati dan Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: