logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Motu

11 Jan

Motu

Motu (Congklak)

Oleh. Victor Ndena

Motu adalah salah satu permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak di masa lalu. Pada awalnya motu hanya dimainkan oleh anak-anak perempuan, namun lama kelamaan anak laki-laki juga ikut bermain. Dalam bahasa Sumba motu berarti bergeser, menggambarkan bagaimana permainan ini dilakukan, yakni menggeser jagung atau batu dari lubang yang satu ke lubang yang lain. Permainan ini mirip dengan permainan yang di daerah lain di Indonesia disebut congklak.

Motu dimainkan oleh dua orang dan biasanya memakan waktu cukup lama. Tidak ada waktu tertentu untuk anak-anak bermain motu. Kapanpun mereka menginginkannya, mereka bisa bermain.

Untuk bermain motu diperlukan sebongkah kayu dengan panjang kurang lebih 50 – 100 cm. Di masing-masing sisi kayu dibuat lubang sebanyak 5 buah dan di masing-masing ujung kayu akan dibuat 1 buah lubang. Jadi, pada sebilah katu tersebut akan ada 12 lubang.

Cara bermainnya hampir sama dengan permainan congklak yang kita kenal sekarang ini. Di setiap lubang yang ada akan diisi dengan 3  buah jagung / batu. Untuk memulai permainan ini kedua orang pemain tersebut akan  suit menggunakan jari – jari tangan. Siapa yang menang akan terlebih dahulu bermain. Dalam permainan ini, si A akan mengambil jagung / batu di salah satu lubang yang merupakan “wilayah”nya. Jagung atau batu tersebut akan ditaruh di lubang-lubang sebelahnya. Pada lubang di mana batu di tangan habis, ia akan mengambil semua batu di lubang tersebut dan mengisikannya di lubang-lubang sebelahnya, termasuk lubang “wilayah” lawannya.

Jika batu terakhir jatuh di lubang yang tidak ada batu maka batu yang ada di di depan lubang  tersebut akan diambil menjadi harta si A. Batu akan dikeluarkan dari wadah dan disimpan di depan tempat duduk si A, kemudian si B akan berganti bermain. Ini berbeda dengan permainan congklak, di mana harta  akan disimpan di 1 lubang tersendiri  yang ada di sebelah kanan dari wilayah kita.

Permainan ini akan berakhir ketika salah satu pemain  kehabisan batu / biji jagung di dalam lubang. Pemenangnya adalah mereka yang masih memiliki batu/butir jagung di dalam lubang. Yang unik bukan yang menang yang mendapat poin (yang menunjukkan ia menang), tetapi yang kalah yang akan mendapatkan sebutan tuk ki. Jika dalam satu permainan ia kalah, ia disebut 1 tuk ki (artinya hutang 1). Ketika dalam permainan selanjutnya ia kalah lagi maka ia disebut 2 tuk ki. Tentu saja semakin banyak tuk ki yang ia dapat semakin banyak “hutang”nya dan semakin banyak pula kekalahannya.

Nara sumber: Ndilu Hamandika

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: