logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Pacuan Kuda

11 Jan

Pacuan Kuda

Pacuan Kuda (Palapang  Njara )

Oleh Ferdi Yulius Lukas


“ foto saat Sumba Timur Cup 2018” pacuan kuda yang menampilkan kuda-kuda Sumba terbaik. (Courtesy: Max FM Waingapu)

 

Pacuan kuda merupakan kegiatan tradisional masyarakat Sumba Timur yang dilakukan sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta bahwa masa panen telah selesai. Kegiatan pacuan kuda saat ini dijadikan sebagai ajang perlombaan resmi oleh Pemerintah Daerah Sumba Timur. Dalam satu tahun pacuan kuda secara resmi diadakan tiga kali, yakni pada bulan Juni, Agustus dan Oktober.

Kelas dalam pacuan kuda

Dalam perlombaan pacuan kuda ada 15 kategori atau kelas yang diperlombakan berdasarkan tinggi serta umur kuda. Rinciannya adalah sebagai berikut:

 Kelas Tinggi Kuda Keterangan Lain
Pemula Pmini       : < 122 cm

P1      : 122 – 126 cm

P2       : 126,5 – 128 cm

P3       : 128,5 – 135 cm

Psuper : > 135 cm

Umur di bawah 3 tahun

 

E E biasa  : 126 -131 cm

E2         : 131,5 – 135 cm

E super  : > 135 cm.

Umur  3-4 tahun, sudah tanggal 2 gigi.

 

D D mini  : 122 cm

D biasa : 122,5 – 126 cm

Umur 4 tahun ke atas

 

C C : 126,5 – 131 cm Umur 4 tahun, sudah tanggal 4 gigi.

 

B B : 131,5 – 134 cm
A A          : 134,5 – 140 cm

A2        : 140,5 – 144 cm

Asuper : > 144 cm

Biasanya kuda Cross karena tingginya.

Ada dua jenis kuda di Sumba Timur pada umumnya, yakni kuda Sandel dan kuda cross-bred. Kuda Sandel adalah sebutan untuk kuda Sumba yang memiliki postur tubuh lebih kecil dan pendek. Ada juga jenis kuda persilangan antara kuda Sandel dan kuda Australia yang berpostur tinggi dan besar. Kuda persilangan ini sering disebut orang Sumba sebagai kuda cross (cross-bred).

Tidak semua kuda dapat diikutkan dalam perlombaan pacuan. Untuk menyeleksi kuda terbaik orang biasanya menelusuri keturunan kuda pacu sebelumnya yang dianggap memiliki kemampuan yang baik. Ada juga orang yang melihat pusaran rambut/bulu kuda (kawulur) untuk mengetahui apakah kuda tersebut cocok untuk dijadikan kuda pacu atau tidak. Bagi orang-orang tersebut, jenis pusaran rambut kuda dapat membantu mengidentifikasi apakah kuda tersebut memiliki napas panjang atau tidak, bisa diarahkan untuk lari sesuai lintasan atau tidak dan sebagainya.

Kuda yang ikut pacuan juga perlu dilatih terlebih dahulu. Melatih dan merawat kuda, menurut salah seorang narasumber, seperti merawat manusia. Perlu memberikan perhatian dan kasih sayang sehingga hubungan antara pelatih dan kuda itu  dekat. Dengan demikian, kuda tersebut menjadi jinak dan mudah diatur oleh pelatihnya. Kuda juga harus dilatih fisiknya dengan cara berlari di pantai, gunung dan tanah lapang. Kuda juga harus sering berenang untuk melatih kestabilan napasnya. Selain itu juga perlu dimandikan agar bersih.

Kuda pacu dikendalikan oleh joki. Joki haruslah mereka yang bertubuh ringan dan kecil. Di Sumba Timur joki kebanyakan anak-anak berumur 13 – 15 tahun. Sebenarnya umur bukan menjadi syarat utama, yang penting tubuh kecil dan ringan. Ada juga joki yang berusia 20 – 27 tahun tetapi bertubuh kecil dan ringan. Joki biasanya telah terbiasa menunggang kuda dan telah mengerti karakter kuda yang ditungganginya.

Para joki tidak menggunakan pelana ketika menunggang kuda. Pada umumnya, orang Sumba tidak terbiasa menggunakan pelana ketika menunggang kuda. Pelana dianggap menghalangi kelekatan kuda dan penunggangnya. Selain itu, pelana dianggap membuat orang tidak percaya diri dan karenanya mudah terjatuh. Tanpa pelana, penunggang kuda menyatu dengan kudanya. Kakinya lebih leluasa menjepit badan kuda.


(Gambar Angger Umbu Hina Marumata memberikan makanan pada kuda)

 

Untuk makan sehari-hari, kuda pacu diberi brem, polard, pelet, pa’u (dedak) dan rumput segar untuk menjaga agar berat kuda stabil.  Sedangkan untuk minumnya diberikan air, madu, telur ayam kampung, telur bebek dan vitamin sebagai penambah stamina kuda. Menjelang pacuan biasanya kuda akan diberikan tambahan vitamin agar kuda bisa berpacu dengan cepat. Untuk menambah stamina, kuda juga diberikan tambahan obat-obatan dari apotik hewan, telur, dan madu.

Pada masa lalu, makanan kuda hanya rumput dan jagung. Kuda juga tidak diberi vitamin maupun obat-obatan untuk menambah stamina.  Orang menggosok cabai rawit tumbuk pada paha dan perut kuda agar kuda dapat berlari kencang. Selain itu kuda juga diberi madu dan telur ayam kampung.

Pacuan kuda di Sumba Timur selalu ramai. Banyak orang dari seluruh wilayah kabupaten datang menonton. Di sela-sela pertandingan, musik country atau rock n roll diputar untuk menyemarakkan suasana. Ketika kuda-kuda berpacu dan berlomba di arena pacuan, orang – orang bersorak-sorai. Ada juga yang meneriakkan nama kuda favorit mereka yang sedang berlari di lapangan. Kuda pacu juga memiliki nama. Berikut di antaranya: Sinar Kabaru, My Sister, Rising Star, Putra Sabu, Angu Kawini, Putra Kawangu, Mamamia, Boy Nusantara dan masih banyak nama lain.

Kuda tidak hanya menjadi bagian dari benda yang dipertukarkan di dalam ritual adat, tetapi juga memiliki pesona yang “menyihir” banyak orang. Ini bisa terlihat dari  istilah bahwa orang memiliki “hobi kuda” yang artinya ia suka memelihara dan melatih kuda. Orang yang memelihara dan melatih kuda pacu pasti juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan kudanya.  Salah satu arena untuk melihat bagaimana kesenangan terhadap kuda itu nampak adalah pacuan kuda.

Nara Sumber :Angger Umbu Hina Marumata

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: