logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Penyelesaian Konflik pada Upacara Kematian di Sumba Kambera

11 Jan

Penyelesaian Konflik pada Upacara Kematian di Sumba Kambera

Penyelesaian Konflik pada Upacara Kematian di Sumba Kambera

Penulis : Melkianus Teni Hawu, S.Pd.

Masyarakat Sumba Kambera dalam setiap aspek kehidupan baik kelahiran, bercocok tanam hingga upacara kematian selalu mengedepankan tradisi yang telah diwarisakan oleh leluhur. Meskipun telah mengenal agama, pengaruh tradisi Marapu masih melekat dalam setiap aktivitas budaya hingga saat ini termasuk upacara pengebumian (taning mameti). Upacara pengebumian masyarakat Sumba Kambera melibatkan keluarga atau kerabat. Biasanya kerabat datang dengan membawa hewan sebagai bentuk dukungan kepada tuan rumah yang berduka.

Dalam kekerabatan itu pun sering terjadinya benturan ataupun kesalahpahamanan yang berujung konflik. Dan penyelesaian konflik yang paling mungkin terjadi adalah pada saat keluarga besar mengalami peristiwa duka. Terdapat dua penyelesaian konflik yaitu konflik yang muncul sebelum peristiwa duka dan penyelesaian konflik yang terjadi setelah proses penguburan.  Biasanya penyelesaiannya dilakukan secara adat.

Penyelesaian konflik sebelum pengebumian

Dalam kehidupan manusia tidak pernah terhindar dari konflik. Bahkan setelah kematian pun manusia kerap meninggalkan konflik. Orang Sumba Kambera sangat menjunjung tinggi akan pentingnya kekerabatan dan persaudaraan. Setelah meninggal dunia pun, konflik atau masalah yang pernah dialami seseorang akan segera diselesaikan oleh pihak keluarga melalui tokoh-tokoh adat dengan melakukan kananding (isi hati) yakni mendengarkan serta mencari tahu apa saja masalah atau siapa yang pernah memiliki masalah dengan mendiang.

Pada tahapan ini, orang-orang yang memiliki konflik dengan almarhum semasa hidupnya atau masalah yang terjadi dalam keluarga harus diselesaikan bersama tokoh adat.  Pihak keluarga akan menyiapkan waktu untuk wuang uhu mameti (memberi sajian untuk leluhur). Jika yang berkonflik adalah pihak yiera maka ia akan membawa babi dan sarung. Jika yang berkonflik adalah pihak ana kawini maka yang dibawa sebagai simbol adat adalah babi dan kuda serta mamuli emas. Pihak duka juga akan menyiapkan kuda, babi dan mamuli emas jika berada di pihak ana kawini. Apabila berada di pihak yiera keluarga duka harus menyiapkan sarung dan babi sebagai balasan.

Setelah itu masuk dalam ritual hamayang yang dilanjutkan dengan pahapang (makan sirih), kemudian papudhuk (cium hidung) sebagai tanda damai. Bilamana pada saat pahadang ada keluarga yang tidak diundang akan terjadi unjar (kecewa) maka tuan rumah (pemilik hajatan)  akan mengirimkan utusan untuk menyampaikan permohonan maaf.  Ini bertujuan ambu na mbiara na wua, ambu kahira na rau (jangan sampai buahnya pecah, jangan sampai daunnya sobek), yang berarti tetap menjaga hubungan kekerabatan.

 

Penyelesaian konflik setelah upacara pengebumian

Tak dapat dipungkiri bahwa dari setiap aktivitas yang melibatkan banyak orang akan meninggalkan kesan, baik maupun buruk. Begitupun dengan prosesi upacara kematian di Sumba Kambera; kerap kali menghadirkan konflik ikutan sebagai akibat dari rasa kurang  maksimalnya pelayanan tuan rumah kepada para tamu undangan selama mengikuti prosesi pengebumian.

Para tamu undangan yang hadir biasanya berasal dari berbagai kabihu yang memiliki kaitan kekerabatan. Setelah prosesi penguburan selesai, biasanya wunang sebagai utusan keluarga menyambangi kawaru (kemah berkumpul) para tamu untuk melakukan puludangu (komunikasi) untuk menyampaikan ucapan terima kasih tuan rumah kepada para tamu undangan sekaligus mendengarkan keluhan pelayanan selama mengikuti proses upacara kematian. Misalnya ketidaksesuaian saat melayani pahapa (sirih-pinang). Apabila ada pihak tamu yang unjar (kecewa) dan pulang tanpa pamit, maka tuan rumah akan mengutus perwakilan membawa lata pani berupa mamuli (jika tuan rumah merupakan anakawini) dan kain (jika tuan rumah merupakan yera) dengan membawa pesan luwa ko mai, dangu na na panjala wihi, lima (banyaklah kesalahan kaki saya melangkah kekeliruan tangan saya berayun).

Jika kerabat yang diundang tidak datang maka kembali pihak tuan rumah mengirim utusan untuk menyampaikan pesan bahwa tuan rumah yang akan menyambangi pihak yang unjar tersebut. Jika pihak unjar tersebut masih menolak niat pihak tuan rumah untuk menyelesaikan konflik, maka konflik tersebut dianggap selesai.

Menurut kepercayaan Marapu, hubungan perkawinan dua anak manusia tidak dapat dipisahkan oleh maut sekalipun. Mereka percaya bahwa hubungan manusia di dunia akan dilanjutkan ke kehidupan baru setelah kematian. Ini disimbolkan dengan udang pada motif tenunan Sumba. Filosofi kehidupan setelah kematian seperti udang yang berganti kulit, meninggalkan kehidupan yang lama menuju kehidupan yang baru. Pada saat seseorang dinyatakan meninggal, nama yang pertama kali diberikan kepada almarhum harus disebutkan sebanyak empat kali. Ini dilakukan oleh ama bhokul atau ina matua yakni orang yang dituakan dalam keluarga. Setelah proses ini dilakukan, keluarga duka diperbolehkan untuk Hi Lawiti pangandingu langu yaitu menangisi dan meratapi mendiang. Dalam tangis dan ratap tersebut berisi tuturan pesan yang dititipkan melalui mendiang kepada orang-orang terkasih yang telah mendahului ke parai marapu (surga). Ini menujukkan bahwa ikatan kekerabatan sangat dijaga oleh Orang Sumba Kambera bahkan dalam kehidupan setelah kematian.

Narasumber : Marselinus Nggau Roti

Editor: Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

 

ecatalogadmin

Leave a Reply: