logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Proses Pembuatan Kain Tenun

11 Jan

Proses Pembuatan Kain Tenun

Tahapan Pembuatan Kain Tenun Ikat

Oleh.Margaretha Dj. Tara

Kain tenun ikat di Sumba Timur terdiri dari dua macam, yakni hinggi dan lawu. Hinggi khusus dikenakan oleh laki-laki sedangkan lawu perempuan. Dahulu kerajinan tenun ikat merupakan kerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan adat sendiri, khusus untuk urusan adat perkawinan dan kematian.

Kain Sumba Kambera berdasarkan pewarnaannya terdiri dari dua jenis yakni kain kawuru yang menggunakan warna dasar biru (indigo) dan kain kombu dengan warna dasar merah (morinda). Proses pengerjaan kain tenun ikat Kambera dengan kain tenun ikat di daerah Sumba Timur lainnya melewati beberapa tahapan yang sama. Perbedaannnya terletak pada proses pewarnaan. Bahan dan alat yang digunakan dalam proses pengerjaan kain tenun ikat Kambera, yaitu :

  1. Pengadaan benang

Pada zaman dulu, proses pengadaan benang ini dilakukan dengan mengambilnya dari dari pohon kapas, yang kapasnya dibersihkan terlebih dahulu untuk menghilangkan biji kapas. Kapas yang telah bersih kemudian di hudur atau dipintal. Pada saat ini, benang yang digunakan sudah lebih banyak menggunakan benang tekstil yang bisa didapatkan di toko-toko tertentu yang sudah melewati tahapan produksi benang.

  1. Kabukul (menggulung benang)

Benang yang sudah disiapkan tadi digulung kembali dengan menggunakan pipak (terbuat dari kayu berbentuk bulat). Tujuannya, untuk memudahkan dalam proses menghani atau pamening.


Gambar 1. Proses Kabukul

  1. Pamening atau menghani

Pamening adalah proses membuka benang sesuai dengan ukuran panjang yang dipasangkan pada wanggi dan lebarnya kain. Cara membuka benang, dengan menghitung berdasarkan jumlah karandi atau ikatan yang menjadi kebutuhan. Setelah siap kemudian hasilnya mulai diberi motif atau hodung.

  1. Hodung (Mengikat motif)

Teknik ikat ini adalah teknik perancangan corak dengan mewarnai kumpulan benang yang diikat pada titik-titik tertentu. Corak yang digunakan sebagai motif adalah sebuah kisah singkat yang menceritakan budaya dari sebuah suku atau daerah tertentu. Pada proses ini, benang yang sudah dipamening kemudian dipindahkan pada wanggi hodung untuk siap disketsa atau digambar. Cara ini digunakan untuk memudahkan dalam proses mengikat pada titik-titik tertentu dari kumpulan benang. Namun ada juga pengrajin tenun ikat yang tidak menggunakan sketsa, karena sudah mahir dalam mengikat dengan mengandalkan daya imajinasi kreatifnya saat memilih motif.

  1. Pewarnaan

Proses pewarnaan sangat tergantung pada keinginan pengrajin. Bisa menggunakan warna kombu atau kawuru. Bila pengrajin menginginkan kain dengan warna kawuru, harus melewati beberapa tahap pewarnaan. Tahap pertama, yaitu proses wailanga atau perendaman dalam air kemiri yang ditumbuk bersamaan dengan kulit kayu dedap, kemudian benangnya dicelupkan dan dibiarkan selama 1 malam lalu dikeringkan. Tujuannya, untuk mendapatkan warna dasar yang kuat. Tahap kedua, benang yang sudah kering tersebut siap untuk digilling (pencelupan) pada warna biru (indigo) kawuru dengan menggunakan daun nila yang dicampur dengan kapur. Dicelupkan selama satu malam dengan menggunakan periuk tanah atau tempayan. Jika yang diinginkan adalah warna merah, maka yang perlu disiapkan adalah akar kombu atau akar mengkudu yang ditumbuk halus. Air perasannya kemudian dicampur dengan lubah atau kulit kayu dedap dan direndam selama satu malam untuk mendapatkan warna merah (kombu) atau morinda. Seluruh benang yang telah jadi baik dengan menggunakan warna kawuru maupun kombu, kemudian dicuci dan dikeringkan sebelum di kattahu (melepaskan ikatan motif)


Gambar 2. Proses penjemuran

  1. Kattahu

Kattahu adalah proses melepaskan ikatan pada motif

  1. Wallahu

Wallahu adalah proses memisahkan, mengatur, dan merapikan motif


Gambar 3. Proses Wallahu

  1. Tinung

Proses menenun yang kemudian dilanjutkan dengan menjahit. Biasanya hasil tenunan hanya berjumlah satu liran, dan untuk mendapatkan satu lembar kain utuh, maka harus menjahit dua liran kain untuk mendapatkan lebar kain yang diinginkan.


Gambar 4. Kain siap ditenun


Gambar 5. Alat tenun

Seluruh proses pengerjaan kain tenun ikat ini membutuhkan waktu empat sampai enam bulan.

 

Nara Sumber : Ibu Yuliana Emu Lindinjama

Editor: Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

*Tulisan ini juga bersumber pada buku Sejarah, Budaya dan Motif Kain Sumba, Muatan Lokal Kelas 4 SD Semester 1, tanpa informasi pengarang, penerbit dan tahun terbit.

ecatalogadmin

Leave a Reply: