logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Ramuan Tradisional Tad’a Ai Mbata Ri

11 Jan

Ramuan Tradisional Tad’a Ai Mbata Ri

Tad’da Ai Mbata Ri, Pengobatan Patah Tulang

Oleh. Melkianus Teni Hawu

Masyarakat Sumba Timur di wilayah Kambera telah secara turun temurun mengenal tumbuhan sebagai obat untuk mengobati berbagai penyakit.  Ada tiga jenis penyakit menurut masyarakat Kambera yakni penyakit biasa, penyakit magis (yang disebabkan oleh suanggi) dan penyakit kutukan. Ramuan tumbuh-tumbuhan telah dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit tersebut, di antaranya pengobatan patah tulang.

Tad’da Ai Mbata Ri adalah ramuan tradisional untuk menyembuhkan patah tulang. Ramuan ini terbuat dari rau wunga (daun turi), layia (jahe) dan minang kokur (santan kelapa). Sebelum ramuan tradisional tad’da ai mbata ri ini digunakan, sang pangarri (ahli urut tulang) terlebih dahulu mencari tahu keadaan tulang yang patah. Setelah itu, sang pangarri mulai mengurut bagian yang mengalami cidera atau patah menggunakan minyak obat yang biasanya telah diwarisakan secara turun-temurun. Pada tahapan ini biasanya pasien akan mengalami kesakitan namun ini harus dilakukan agar tulang kembali pada posisi semula. Terkadang sang pangarri mengambil tindakan ekstrim dengan cara memukul bagian tulang yang patah menggunakan palu kayu.  Hal ini dilakukan pada pasien patah tulang yang ketika pengurutan mengalami masalah atau tulangnya tidak kembali pada posisi semula.

Setelah diurut, bagian tulang yang mengalami cidera atau patah diberi ramuan tad’da ai mbata ri yang berbahan dasar rau wunga (daun turi) , layia (jahe) dan minang kokur (santan kelapa). Cara meramunya yakni mula-mula rau wunga (daun turi) dan layia (jahe) di-b’ai (ditumbuk) hingga hancur menggunakan ngohung (lesung). Selanjutnya siapkan kokur pakiki (kelapa parut) dan air secukupnya. Kedua bahan ini dicampur hingga menghasilkan santan perasan pertama.  Selanjutnya semua bahan mentah dimasukkan ke dalam wuru tana (periuk dari tanah liat) dan dimasak di atas ra’o (tungku) menggunakan kayu bakar. Setelah matang, ramuan didiamkan selama beberapa saat sampai ramuan menjadi hangat. Setelah itu ramuan dilumuri pada bagian tulang yang patah lalu dibungkus menggunakan kain dan diikat.

Selama masa pengobatan, pasien harus sering membasuh perban yang berisi ramuan tad’da ai mbata ri dengan air dingin. Ini dipercaya bisa membantu kandungan herbal yang ada meresap ke dalam tulang melalui pori-pori kulit serta mengurangi nyeri. Ini terus dilakukan sampai pasien tidak merasakan sakit pada bagian yang cidera atau patah. Bagian tulang yang patah bisa dibungkus dengan kain atau kulit batang pisang yang kemudian diikat agar tulang yang patah tidak bergeser dari posisinya. Lilitan ramuan tad’a ai mbata ri ini dilepas saat pasien telah merasa lebih baik.

Sampai saat ini pengobatan tradisional menggunakan tad’a ai mbata ri menjadi pilihan masyarakat Kambera sebagai warisan leluhur.  Teknik pengobatan ini dirasakan aman dan terbukti  menyembuhkan pasien dalam jangka waktu yang tidak lama. Selain itu, mudah untuk  mendapatkan bahan ramuan di sekitar lingkungan dan menjadi salah satu alasan mengapa pengobatan ini menjadi alternatif bagi masyarakat Sumba.

Salah satu ahli patah tulang yang masih menjalankan teknik pengobatan ini adalah Appu Mbettu. Warga RT 014 kampung Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera ini dikenal sebagai pangarri (ahli urut dan patah tulang) dan telah berhasil menyembuhkan puluhan pasien yang mengalami cidera atau patah tulang. Menurut beliau, semua orang bisa belajar meracik atau meramu tad’a ai mbata ri namun keahlian pangarri atau mengurut tulang yang patah hanya dimiliki oleh mereka yang ahli. Beliau salah satunya yang masih eksis hingga kini.

Nara sumber: Appu Mbetu

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: