logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Ritual Kematian Marapu

11 Jan

Ritual Kematian Marapu

Tahapan Ritual Kematian dalam Kepercayaan Marapu

Oleh Luh Putu Ayu Riska Widarmiati, S.S, M.A

       Kepercayaan Marapu berupa penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara leluhur. Leluhur pada kepercayaan Marapu lebih sebagai perantara yang menyampaikan kehendak dan keinginan keluarga kepada TuhanYang Maha Esa karena ada keyakinan bahwa tak ada seorang pun dapat berkomunikasi dengan Sang Alkhalik (yang disebut Mawulu Tau Majii Tau).

Sang Alkahalik tersebut digambarkan dalam dua perwujudan, yaitu laki-laki dengan nama Ama Pakawurungu (bapak yang mendengar), dan Ina Pakawurungu (ibu yang mendengar). Konsep Ina-Ama atau langit-bumi mencerminkan bahwa kepercayaan Marapu mengacu pada harmonisasi mikro dan makro kosmos. Filosofi tersebut kemudian menjadi hukum sekaligus norma kepercayaan Marapu dan sangat disesuaikan dengan konsep harmonisasi. Konsep harmonisasi tersebut mencakup relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam atau lingkungannya.

Penerapan kepercayaan Marapu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba Timur hingga saat ini masih tetap dilaksanakan dalam rangkaian upacara-upacara tradisional, salah satunya upacara kematian dan penguburan mayat.

Konsep Ritual Kematian Kepercayaan Marapu

Secara garis besar, pelaksanakan atau tata urutan ritual penguburan mayat dengan konsep marapu terangkai sebagai berikut :

  1. Pa Benging

Merupakan ritual membangunkan orang yang baru saja dinyatakan meninggal. Cara membangunkannya, dengan berteriak memanggil nama yang meninggal oleh orang yang dituakan dalam keluarga atau kerabatanya sebanyak empat kali. Jika tidak menyahut panggilan tersebut, baru keluarga akan menangis karena diyakini orang tersebut telah betul-betul meninggal. Setelah itu, pihak keluarga mulai menyiapkan makanan bagi yang meninggal tersebut, karena diyakini orang itu masih berada di sekitar keluarganya.

  1. Ihu Mameti

Ihu mameti merupakan ritual pembersihan jenasah yang baru meninggal dengan memandikannya di depan kamar yang meninggal atau di bilik khusus. Pihak keluarga bersama pemuka adat (Wunangu) berkewajiban menggambarkan kronologi  kematian yang diungkapkan melalui cerita dalam bahasa-bahasa kiasan (Luluku). Bentuk Luluku seperti sebuah perumpamaan.

  1. Pakalambung dan Patiarang

Jenasah yang telah dimandikan kemudian dipakaikan kain melalui ritual Pakalambung. Ritual ini terdiri dari dua istilah yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin yang meninggal dan kainnya, yaitu Paborunggu Hinggi (memakaikan kain bagi jenasah laki-laki) dan Pahauwungu Lawu (memakaikan sarung bagi jenasah perempuan). Ritual patiarang merupakan ritual mengikat selendang yang berlapis 2-3 warna di kepala jenasah dengan posisi mengitari kepala sampai ke dagu. Pada kedua sisi telinga disisakan kain selayaknya telinga yang mengantung.

  1. Papalang La Kaheli Bokul

Ritual memindahkan jenasah yang telah selesai dimandikan dan dililitkan kain, kemudian dipindahkan ke Kaheli Bokul (rumah adat tempat disemayamkannya jenasah). Posisi mayat ketika diletakkan di Kaheli Bokul dengan duduk menekuk layaknya seperti bayi yang berada di dalam kandungan. Jenasah diletakkan di dalam Karaba (peti mayat) yang terbuat dari pohon kepok atau pohon khusus. Sebagai alas jenasah, menggunakan kulit kerbau yang berbentuk segi empat.

  1. Pahamang atau musyawarah adat

Pertemuan adat menjadi tumpuan utama dari ritual adat, termasuk prosesi penguburan di Sumba Timur. Sebab melalui musyawarah adat segala sesuatu yang menyangkut prosesi ritual, dibahas dan kemudian disepakati bersama oleh keluarga inti dan keluarga yang terkait lainnya (keluarga dari proses kawin mengawin, biasanya hanya perwakilan saja). Agenda utama yang menjadi pembahasan dalam musyawarah adat tersebut menyangkut jadwal penguburan dan tamu-tamu yang diundang. Musyawarah adat yang dilaksanakan satu hari menjelang pelaksanaan penguburan akan membahas mengenai tugas masing-masing anggota keluarga.

  1. Dundangu atau kegiatan mulai mengundang

Setelah musyawarah adat, perwakilan keluarga yang berduka bersama Wunangu dan orang kepercayaan lain mulai mengundang Kabihu-kabihu yang akan menjadi tamu. Jumlah dan kedudukan orang yang diundang juga telah ditentukan dalam rapat adat. Pada masa kini cukup 4 orang yang mengundang (di masa lalu  8 orang) yang terdiri dari Wunangu dan kandihang (juru bicara) mewakili masing-masing keluarga (yang mengundang maupun yang diundang). Cara mengundang ada ketentuan, yakni  pemberitahuan secara lisan serta membawa barang bawaan yang disesuaikan dengan hubungan kekerabatan. Barang bawaan digunakan sebagai Latangaru yang menunjukkan tujuan ia mengundang.

  1. Taning atau penguburan

Taning adalah ritual puncak dari penguburan yang merupakan bentuk pengabdian dan tanggung jawab terakhir keluarga kepada orang yang meninggal. Ketika saat pemakaman tiba, jenazah diturunkan dari rumah dan diarak dengan banyak pengawal ke pekuburan. Pengawal yang menunggang kuda dipayungi dengan payung yang dilapisi kain sutera. Pada saat itu para pengawal menjadi tidak sadar (trance) sehingga harus dipapah. Sementara itu dua pasang kuda disembelih dan perbekalan arwah si mati dibuang ke arah matahari terbenam. Setibanya di pekuburan, jenazah dikeluarkan dari keranda, lubang kubur ditutupi kain, kemudian jenazah diturunkan dan didudukkan menghadap ke arah matahari terbenam. Pada saat inilah kaum keluarga yang ingin memberi bekal kepada arwah si mati melemparkan benda-benda berharga ke dalam lubang kubur. Setelah itu lubang ditutupi tanah dan di atasnya ditutupi lagi dengan watu reti (batu kubur). Pada kalangan bangsawan, mulut lubang kubur itu ditutupi batu rata, kemudian di atasnya ditaruh sebuah batu besar yang diberi kaki, dan pada bagian kepala serta kaki didirikan penji reti (patung nisan). Kubur yang semacam itu disebut reti ma pawihi. Ketika jenazah diturunkan ke dalam lubang kubur, disembelih lagi sepasang kuda (jantan dan betina) agar arwah si mati dapat mengendarainya ke Parai Marapu Sesudah semuanya beres, para pengurus jenazah mencuci tangan mereka dengan air dari empat buah kelapa di atas kubur. Para wanita meletakkan pahapa dan menyirami bagian hulu kubur dengan minyak wangi.

Gambar 1. Prosesi taning

  1. Pahili Kalumbut

Dalam ritual ini terdapat tiga ritus yang dilakukan. Pertama, acara pembersihan seluruh media (kuda, payung, aksesoris)  yang digunakan dalam ritual di sungai atau aliran mata air. Tujuan ritual ini, menyucikan kembali media-media tersebut yang selama prosesi berlangsung telah tercemar dengan diraba dan digunakan manusia. Media yang telah dibersihkan kemudian disimpan dalam Buala Malulu dan digantung di Hindi Bokul atau atap Uma Bokul. Kedua, ritual penaburan sirih pinang di atas Lata Pahapa Reti dan Uhu Magenjing untuk memberi makan roh yang meninggal. Ketiga, pembubaran panitia sekaligus pengucapan terima kasih keluarga yang berduka kepada para kerabat yang sudah membantu. Puncaknya, keluarga yang berduka akan menikam babi sebagai kameti (lauk sajian) bagi para kerabat yang menandakan pemisahan kembali berdasarkan hubungan sebelumnya, setelah berbaur menjadi satu kesatuan keluarga yang berduka.

  1. Warrung Kalumbut

Ritual ini sebenarnya merupakan ritual yang lepas dari tata urutan Taning, karena memiliki makna pelepasan keluarga kepada leluhur selamanya. Ketika ritual Warrung Kalumbut belum dilakukan oleh keluarga, diyakini para roh-roh leluhur itu masih berkeliaran di sekitar rumah. Namun, jika ritual Warrung Kalumbut telah dilakukan, maka diyakini para leluhur tersebut telah sepenuhnya berada di Parai Marapu (dunianya para leluhur). Bentuk pelepasannya, dengan mengadakan ritual pembuangan Kalumbut (tempat menyimpan sirih pinang bagi laki-laki), dan Buala Happa (tempat menyimpan sirih pinang bagi perempuan).

Sumber:

Widarmiati, Luh Putu Ayu Riska. Pertahanan Status Sosial melalui Penguburan Mayat dalam Kepercayaan Marapu di Sumba Timur Nusa Tenggara Timur. Tesis Pasca Sarjana. Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 2009.

Wawancara Umbu Remi Deta

Editor: Ami Priwardani

ecatalogadmin

Leave a Reply: