logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Tahapan dalam Perkawinan Masyarakat Sumba Kambera

11 Jan

Tahapan dalam Perkawinan Masyarakat Sumba Kambera

Tahapan Adat Perkawinan di Sumba Timur

Oleh Jumlitan Saulus Windi dan Luh Putu Ayu Riska Widarmiati, S.S, M.A

 

Acara perkawinan secara adat di Sumba Timur, khususnya Kambera disebut dengan (Lii Manguama/Lii Lalei). Acara perkawinan tersebut memiliki tata cara yang tahapannya disesuaikan dengan kemampuan pihak laki-laki, kesepakatan antara pihak laki-laki dan perempuan, serta hubungan relasi kekerabatannya. Berdasarkan kemampuan dan kesepakatan, akan dinegosiasikan dalam pertemuan pertama (masuk minta). Berdasarkan hubungan relasi kekerabatan dilihat dari  hubungan relasi kawin mengawin. Jika relasinya baru, maka tahapan yang ditempuh akan memakan waktu yang lebih panjang. Sementara jika relasi kawin mengawinnya sudah pernah terjadi, maka tahapan yang ditempuh akan lebih singkat. Maka banyak orang tua yang menyarankan kepada anaknya bahkan tidak sedikit yang menjodohkan untuk tetap menjalin relasi perkawinan dengan kekerabatan yang sudah ada.

Adapun proses tahapan perkawinan berdasarkan relasi kawin mengawin yang baru terjalin, melewati empat tahapan. Berikut tahapannya :

  1. Tahap pertama

Disebut tahapan pa tanda kapu pipi atau tahapan perkenalan/ketuk pintu. Tahapan dimana pihak laki-laki untuk pertama kalinya datang ke keluarga perempuan untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya. Pada tahapan ini pertemuan hanya melibatkan keluarga inti dari pihak laki-laki dengan pihak perempuan saja.

  1. Tahap kedua

Tahapan yang di mana prosesi adat dengan mengutus jubir (wunang), mulai dilakukan. Jubir (wunang) mengatakan, “himbunggunya kanjonga ningu waingu, luku ningu kurangu” (saya mencari lembah yang ada airnya, sungai yang ada udangnya) yang artinya mencari kembang di taman yang ada gadisnya. Pihak laki datang bersama satu atau dua orang dewasa, dengan membawa satu buah mamuli mas, satu utas lulu amahu, satu ekor kuda jantan dan satu ekor kuda betina yang cukup umur. Persamaan antara tahap pertama dan kedua, sama-sama masih pada rangkaian proses perkenalan atau ketuk pintu. Perbedaannya, kalau pada tahapan pertama hanya melibatkan keluarga inti sedangkan tahap kedua sudah melibatkan keluarga yang lebih besar.

 


Gambar 1. Mamuli

Gambar 2. Lulu Amahu

Pada tahap ini pihak laki-laki membawa mamuli emas disebut “kabela punggu oka, pariku mbuta rumba” (parang pemotong kayu pagar, tajak untuk mencabut rumput) yang artinya sebagai perintis (permulaan) dari pembawaan-pembawaan selanjutnya. Semua pembawaan ini adalah untuk orang tua dari si gadis, tidak akan dibagi-bagikan kepada anggota keluarga lain.

Sebagai penanggung jawab secara keseluruhan upacara dari awal sampai selesai dari pihak laki-laki, adalah orang tua dari laki-laki atau saudara yang ‘dituakan’ dalam kabihu. Namun penanggung jawab tersebut tidak turut serta hadir di rumah pihak perempuan, maka disebut sebagai “manu manda puru, wei manda luhu” (ayam yang tidak turun, babi yang tidak keluar), artinya penanggung jawab yang berdiam dan menunggu di tempat. Penanggung jawab akan memperoleh seluruh laporan pelaksanaan dari wunang.

Jika pihak perempuan menerima lamaran dari pihak laki-laki, pihak perempuan akan membalas dengan satu lembar kain kombu, satu lembar sarung Sumba ditambah satu potong kain merah (tiara kaha). Makna dari pemberian kain dan sarung adalah balasan dari mamuli dan hewan, sedangkan makna kain merah adalah tanda perjanjian yang harus ditepati dengan ungkapan “Mata wa kana njanga njara, kana njanga karambua” (supaya dia menjadi kuda yang balik dan kerbau yang kembali). Pihak perempuan akan menikam seekor babi jantan besar (kameti), dimana yang sebelah/separuh dari babi itu dimasak untuk menjadi lauk makan bersama dan yang sebelah lagi dibawa pulang pihak laki-laki.

  1. Tahap ketiga

Tahap ini disebut pergi berlenggang (Lua Pa Pangga). Maksudnya, pihak perempuan pergi ke keluarga laki-laki untuk melihat atau mencari tahu persiapan dan tingkat kemampuan dari pihak laki-laki (melihat padang atau melihat hewan di padang dan hewan di mbola atau emas adat). Waktu kepergian pihak perempuan, juga sudah diketahui dan disepakati (rehi pakawuku, tula pakajanga) pihak laki-laki pada saat pertemuan di tahap kedua.

Berikut rangkaian prosesinya. Rombongan pihak perempuan yang hanya terdiri dari laki-laki dalam jumlah besar atau hanya beberapa puluh orang diterima oleh pihak laki-laki. Ketika akan memulai pembicaraan adat, pihak laki-laki menikam seekor babi jantan besar berwarna hitam polos yang disebut kameti tanda taka (tanda tiba). Selain kameti tanda taka, keluarga laki-laki juga menikam babi untuk santapan bagi tamu selama mereka masih menjadi tamu (ari ya). Jumlah hewan yang ditikam atau dipotong untuk lauk pauk, disesuaikan dengan jumlah dan berapa lama tamu itu berada di keluarga laki-laki.

Pada tahap ini pembicaraan adat lebih membahas mengenai, jumlah Kamba yang diminta keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki. Umumnya jumlah Kamba tersebut disesuaikan dengan jumlah paman (tuya) dan saudara laki-laki yang akan diberi belis.

Kalau pembicaraan sudah berakhir karena sudah dengan tercapainya kesepakatan dan keputusan bersama (Pa hamanyaka la ngaru, pa meranyaka la lima), maka pihak tuan rumah (pihak laki-laki) memperlihatkan mamuli-mamuli yang terdiri dari satu buah mamuli mas berukir (ma pawiti) dan satu buah mamuli mas polos (ma kamuluku), dan hewan/kuda yang akan dibawa nanti ketika pergi membayar belis ke rumah pihak perempuan. Setelah melihat itu, pihak perempuan akan mengatakan supaya mamulinya tambah dimerahkan dan ukurannya diperbesar lagi, dan kudanya dipelihara lagi”. Artinya agar supaya mutunya ditingkatkan lagi, atau diganti dengan yang lebih bermutu. Maka negosiasi adat dimulai pada tahap ini.

Sesudah segala pembicaraan selesai dan tamu akan pulang, maka pihak tuan rumah (laki-laki) menikam seekor babi jantan besar berbulu hitam polos yang disebut  kameti tanda luhu (tanda keluar). Babi tersebut ditikam lalu dibagi dua, yang sebelah ditinggalkan atau diberikan kepada tuan rumah untuk menjadi lauk pauk pada santapan perpisahan, yang sebelah lagi dibawa pulang oleh pihak perempuan. Tetapi ada juga yang pihak perempuan membawa pulang semua kameti secara utuh.

  1. Tahap keempat

Tahap keempat (purru ngandi) adalah tahapan pihak laki-laki ke rumah pihak perempuan untuk melakukan pemberian belis dan menjemput calon pengantin perempuan pindah ke rumah laki-laki. Acara adat ini merupakan tahapan terakhir dalam urusan kawin mawin (lii lalei – lii mangoma). Belis yang dibawa pihak laki-laki disesuaikan dengan jumlah kamba yang diminta pihak perempuan pada saat pembicaraa adat di lua pa pangga.

Sampai di kampung pihak perempuan, rombongan disambut tuan rumah dengan tari-tarian. Ketika sudah akan mulai pembicaraan adat mengenai pembayaran belis, maka pihak tuan rumah menikam satu ekor babi besar, sebagai tanda tiba (tanda taka). Setelah itu, pembicaraan pun dilanjutkan.

Puncak acara dari purru ngandi adalah pemberian nasehat kepada calon laki-laki dan perempuan dan pemberian mbuala ngandi dari keluarga perempuan kepada pengantin perempuan. Ritual pemberian nasehat ini dilakukan oleh orang yang dituakan dalam marga. Prosesi ini dilakukan pada pagi hari sambil menunggu saatnya untuk pihak laki-laki pulang membawa perempuannya. Sementara pemberian mbuala ngandi dari orang tua kepada pengantin perempuan, dilakukan pada saat selesai diberikan nasehat atau pada saat pihak laki-laki dengan membawa pengantin perempuan akan beranjak pulang.

Mbuala ngandi adalah bekal yang diberikan keluarga perempuan kepada dirinya selama dia memulai hidup baru di keluarga laki-laki yang berupa, dua lembar kain kombu, dua lembar sarung tenun (lau pahudu), satu kalung muti asli, satu pasang (hamawangu) gading atau satu pasang gelang perak dari orang tuanya. Berupa satu lembar kain kombu, satu lembar sarung tenun, satu kalung muti salak, dan satu gelang muti salak dari paman (kuta rara kaliti pangga). Dan berupa satu lembar kain kombu, satu lembar sarung tenun, dan satu utas muti salak dari saudara laki-laki (Kuta rara aya na-kuta rara eri na). Jika orang tua si perempuan memiliki kemampuan lebih secara ekonomi, si perempuan akan diberikan bekal berupa seekor kuda jantan besar untuk menjadi kuda tunggang (njara kaliti) serta emas sebagai bekal anaknya di keluarga yang baru.

Setelah seluruh prosesi selesai, maka keluarga laki-laki pulang membawa serta gadis yang dipinang. Sebelumnya, pihak keluarga perempuan akan menikam babi tanda keluar (tanda luhu). Untuk membalas babi atau kameti tanda luhu, pihak laki-laki menyerahkan satu ekor kebau cukup umur yang boleh dipotong boleh juga tidak oleh pihak perempuan. Sejak saat itu, resmilah hubungan kekerabatan di antara kedua pihak. Pihak perempuan disebut yera, atau pingi ai pa punggu, matawai pa taku (tempat memotong kayu, tempat menimba air ), sedangkan pihak laki-laki disebut ulayea, atau ana kawini.

Bagi relasi kekerabatan yang sudah pernah terjalin hubungan kawin mengawin, akan melewati tahapan yang lebih singkat yaitu 2 tahapan saja. Tahapan pertama yaitu tahapan masuk minta yang melibatkan keluarga dari pihak laki-laki dengan pihak perempuan, yang diwakili oleh jubir atau wunang masing-masing. Tahapan kedua pemberian belis yang ditutup dengan berpindahnya perempuan (Purru gandi) dari marga keluarganya ke marga keluarga laki-lakinya. Perbedaan tahapan perkawinan antara relasi kekerabatan yang baru dengan relasi kekerabatan yang sudah pernah terjalin sebelumnya terletak pada penerapan Lua Pa Pangga. Kalau relasi yang pernah terjalin hubungan kawin mengawin sebelumnya, maka lua pa pangga tidak akan dilaksanakan. Namun jika kedua pihak belum pernah mempunyai hubungan kawin mawin sebelumnya sehingga merupakan hubungan kekeluargaan yang baru (Kalembi Bidi), maka Lua Pa Pangga ini sangat perlu diadakan.

Narasumber   : Marselinus Nggau Roti dan Umbu Remi Deta

Editor: Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

Tulisan ini juga bersumber pada buku Sejarah, Musyawarah dan Adat Istiadat Sumba Timur yang ditulis oleh Umbu Pura Woha, diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur tahun 2008.

ecatalogadmin

Leave a Reply: