logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Taning (Tradisi Penguburan)

11 Jan

Taning (Tradisi Penguburan)

Keterlibatan Keluarga dalam Ritual Kematian Sumba

Oleh. Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

Taning (ritual penguburan) adalah ritual yang paling menunjukkan kebersamaan yang dibangun melalui hubungan kekerabatan. Keluarga yang terlibat memiliki peran masing-masing dalam ritual tersebut. Keluarga bagi orang Sumba tidak terbatas pada keluarga inti tetapi mengacu pada hubungan kekerabatan yang lebih luas. Setiap kerabat yang terlibat akan membawa benda yang akan dipertukarkan sesuai dengan kedudukanř mereka dalam relasi kekerabatan. Dengan demikian menegaskan kembali relasi kekerabatan dengan pihak yang meninggal.

Dalam ritual ini, pihak keluarga laki-laki yang dituakan akan memegang peranan utama dalam memutuskan segala sesuatu. Pembagian peran masing-masing kerabat diputuskan dalam Pahamang atau musyawarah adat.

Kerabat yang terlibat dalam ritual penguburan terdiri dari beberapa unsur. Pertama, kerabat yang memberi bantuan tidak saja berupa waktu, tenaga, pikiran tetapi juga materi. Kerabat tersebut disebut dengan Anda Karaha – Ndula ka Jia. Kerabat yang menjadi Anda Karaha – Ndula ka Jia, adalah kerabat Angu Paluhu (saudara laki-laki dari pihak laki-laki yang berduka). Kekerabatan Angu Paluhu yang termasuk dalam Anda Karaha – Ndula ka Jia terbagi menjadi tiga. Pertama, yang berasal dari suku yang berbeda. Kedua, berasal dari suku yang sama. Ketiga, adanya suatu kedekatan emosional yang terbentuk karena tempat yang berdekatan (tetangga) maupun jasa. Anda Karaha – Ndula ka Jia memberikan bantuan materi melalui Ma Li La Kiri Kaheli (melewati pintu belakang) untuk meringankan beban pokok keluarga yang berduka. Bantuan materi tersebut berupa hewan (umumnya babi) yang digunakan sebagai Kameti atau hidangan bagi para tamu.

Kerabat kedua yang juga memiliki keterlibatan yang sangat besar, tetapi posisinya hanya sebagai tamu yaitu Yera dan Ana Kawini. Yera adalah kabihu (marga) yang memberi perempuan kepada keluarga yang berduka, sedangkan ana kawini adalah kabihu yang mengambil perempuan dari keluarga yang berduka. Contohnya, jika si mati A (perempuan) maka pihak yera adalah saudara laki-laki dari si A, sementara ana kawini adalah saudara perempuan dari suami si A.

Yera dan Ana Kawini pada ritual penguburan akan disambut dengan cara lebih formal melalui wunang di tikar adat, dan bantuan materi yang mereka berikan juga sesuai dengan aturan adat (yera akan membawa kain dan sarung, sementara ana kawini akan membawa kuda atau kerbau). Benda yang diberikan oleh pihak Yera kepada keluarga berupa Hinggi (kain bagi laki-laki) atau Lawu (sarung bagi perempuan), yang disesuaikan dengan jenis kelamin yang meninggal. Sedangkan Ana Kawini akan membawa materi berupa mamuli, lulu amahu dan ternak (kuda, kerbau) yang disebut Dangangu, terdiri dari dangangu meti = hewan yang dipotong saat penguburan dan dangangu luri=hewan yang tidak dipotong.

Gambar 4. Mamuli

            Pertukaran materi adat sebagai bentuk balasan keluarga kepada para kerabat tersebut akan terjadi setelah rangkaian prosesi penguburan selesai dilaksanakan. Bagi kerabat Anda Karaha – Ndula ka Jia, keluarga akan memberi Kameti berupa babi, setelah seluruh tugas menjamu tamu selesai dilaksanakan. Tujuannya, sebagai ungkapan rasa terima kasih keluarga atas bantuan dan sokongan materi yang diberikan selama prosesi berlangsung. Selain itu sebagai bentuk pemisahan kembali hubungan kekerabatan seperti semula yang sempat membaur menjadi kerabat demi suksesnya pelaksanaan penguburan. Bagi kerabat Yera, keluarga akan memberikan ternak (kuda atau kerbau), mamuli dan lulu amahu. Jika keluarga tidak bisa memberikan ternak kuda, bisa diganti dengan mamuli mas dan kametii. Bagi kerabat Ana Kawini, keluarga akan memberikan Hinggi atau Lawu, dan Kameti.

 

Sumber:

Widarmiati, Luh Putu Ayu Riska. Pertahanan Status Sosial melalui Penguburan Mayat dalam Kepercayaan Marapu di Sumba Timur Nusa Tenggara Timur. Tesis Pasca Sarjana. Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 2009.

 

Wawancara Umbu Remi Deta

Editor: Ami Priwardhani

 

ecatalogadmin

Leave a Reply: