logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Teming

11 Jan

Teming

Teming (Tameng)

Oleh Alferd Lay

Tameng atau teming adalah suatu atribut yang mempunyai banyak sejarah dan cerita menarik. Pada masa lalu, teming merupahkan salah satu atribut yang wajib dibawa ketika berperang saat memperebutkan suatu wilayah. Pada masa kini, teming merupakan sebuah atribut yang dipakai dalam sebuah tarian. Di Sumba Timur sendiri, teming digunakan dalam Tarian Harama.

Penggunaan teming dalam tarian Harama memiliki hubungan yang erat dengan sejarah peperangan di Sumba Timur. Di medan perang orang – orang yang menang dalam pertempuran akan melakukan tarian dengan melompat bersorak – sorak  sambil memainkan tombak, parang dan teming. Dari sinilah pengunaan teming dalam Tarian Harama memiliki makna penyambutan orang – orang yang pulang berperang dengan sebuah kemenangan.

Teming adalah sebuah pelindung berbentuk bundar ,yang terbuat dari kulit hewan seperti kerbau atau sapi. Daya tahan teming dari serangan musuh dapat diukur dari proses pembuatannya. Teming yang kuat dan kokoh memiliki proses pembuatan yang cukup lama. Proses pembuatan untuk sebuah teming yang sempurna dibutuhkan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar tujuh sampai delapan bulan.

Menurut beberapa masyarakat Sumba Timur jaman dulu, setelah teming selesai dibuat akan ada proses ritual seperti doa – doa atau Hamayang (sembayang) pada teming tersebut. Hal ini dipercaya akan membuat teming lebih kuat dan tidak mudah ditembus. Bahan – bahan yang di butuhkan untuk membuat teming adalah bambu atau rotan, serta kulit hewan (bisa kerbau atau sapi). Kulit hewan yang dipakai biasanya kulit yang sudah dikeringkan terlebih dahulu. Rotan  diraut hingga dapat dibentuk sebuah lingkaran kira kira sebesar alat tapis (nyiru), kemudian kulit kerbau akan dipotong sesuai ukuran diameter lingkaran rotan. Kemudian kulit kerbau akan dijepitkan pada lingkaran rotan tersebut. Kulit bambu  akan diikat pada pinggiran teming agar lebih kuat dan tidak mudah lepas.

Teming yang sudah selesai dibuat akan diwarnai, umumnya diberi warna hitam. Pada masa kini para pengrajin alat tari tradisional biasanya juga menggunakan nyiru sebagai pengganti kulit kerbau apabila susah didapatkan. Bentuk bulat dari nyiru yang menyerupai sebuah teming menjadi alternatif lain untuk di jadikan aksesoran tarian. Tinggal hanya perlu diwarnai dan dipasangkan pegangan. Hal ini tidak menurunkan nilai sejarah teming. Penggunaan nyiru dipandang mempermudah pembuatan dan teming yang dihasilkan lebih mudah dibawa karena lebih ringan. Biasanya pada permukaan teming akan digambar pola atau tulisan nama daerah atau nama tarian.

Menurut narasumber, teming yang digunakan sekarang hanya sebagai aksesoris atau atribut pada saat melakukan tarian (Harama). Teming juga dipakai di tarian di daerah lain seperti pada Tari Kataga dari Sumba Tengah yang juga merupakan tarian peperangan. Selain itu, teming  dapat kita temui di Museum Alat – alat  Tradisional di Waingapu, Sumba Timur.

Narasumber: Lusia Likanodi

Editor: Ami Priwardani

 

ecatalogadmin

Leave a Reply: