logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Tradisi Pangaari

11 Jan

Tradisi Pangaari

Tradisi Pangarri (Patikka) Ma Paana (Mengurut Ibu yang Akan Melahirkan)

Penulis : Melkianus Teni hawu

Masyarakat Sumba Timur wilayah Kambera mengenal istilah pangarri (mengurut), patikka (mendorong), mapaana (melahirkan) yang secara harafiah dapat diartikan mengurut dan mendorong jabang bayi. Tradisi pangarri/patikka mapaana adalah sebuah tradisi membantu perempuan Sumba dalam proses persalinan. Ini biasa dilakukan oleh seorang Mapangarri/Mapatikka (dukun beranak) yang sudah diakui keahliannya oleh warga sekitar. Biasanya Mapangarri/Mapatikka merupakan satu profesi/keahlian yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Seorang Mapatika memiliki kemampuan melihat dan memprediksi usia kehamilan serta waktu persalinan seseorang. Biasanya mapatika akan memberikan saran kepada wanita yang mengandung untuk menjaga dan mengontrol kondisi rahimnya dalam jangka waktu tertentu. Ini bertujuan agar ibu dan bayi tetap dalam kondisi sehat. Ketika usia kehamilan sudah menjelang persalinan, sang suami biasanya diminta untuk mengumpulkan kayu api yang akan digunakan sebagai bahan bakar saat membuat air panas untuk terapi panggang pinggang (padarangu, berdiang) sang istri kelak setelah melahirkan.

Dalam membantu proses persalinan seorang mapatika tidak harus memiliki persiapan khusus. Dengan bermodalkan keahlian yang diturunkan, seorang mapatika dapat membantu persalinan dengan cepat dan jarang mengalami kendala. Adapun tantangan yang sering dialami yakni saat terhambatnya pintu lahir bayi. Ada anggapan yang berkembang di masyarakat suku Sumba Kambera bahwa selama proses kehamilan setiap tingkah perbuatan kedua orang tua dapat dirasakan dan diketahui oleh jabang bayi. Orang Sumba percaya bahwa bayi telah memiliki jalinan batin dengan orang tuanya sehingga setiap kesalahan atau tindakan dari orang tua dapat membuat anaknya sedih dan tak mau melihat wajah ayah dan ibunya. Untuk mengatasi itu, sang mapatika biasanya meminta piaka pada kedua orang tua yaitu pengakuan secara tulus atas kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan. Biasanya setelah piaka dilakukan, proses kelahiran akan menjadi lancar dengan sendirinya.

Setelah bayi lahir, mapatikka akan memotong puhhu (tali pusar) dengan menggunakan kadhika puhhu yaitu alat potong yang terbuat dari kulit bambu yang kemudian dicuci bersama kariana (plasenta) lalu dikubur dalam tanah setelah dimasukkan dalam periuk tanah. Untuk bayi laki-laki, plasentanya ditanam di sudut rumah bagian kanan, dengan harapan anak akan tumbuh menjadi lelaki yang dewasa, tangguh dan bertanggung jawab. Sementara untuk bayi wanita, plasentanya ditanam di sudut rumah bagian kiri. Ini memiliki filososi bahwa seorang wanita ketika dewasa akan menikah dan pergi meninggalkan orang tuanya. Selain menanam plasenta, masyarakat Sumba juga memiliki kebiasaan menggantung plasenta si bayi di atas pohon.

Selanjutnya, mapatikka akan melakukan perawatan pada sang ibu selama 40 hari. Dalam proses ini, mapatikka akan memberikan ramuan herbal alami dari daun kala mbaki, untuk diminum guna membersihkan rahim dari sisa-sisa darah saat proses bersalinan serta daun dan kulit damar (jarak pagar, dalam bahasa Sumba padamu, Jatropha Curces (Lt)) yang direbus untuk memandikan bayi.


Foto 1, Penulis bersama Ibu Yuliana Padu Lemba

Salah satu mapatikka yang cukup dikenal adalah Yuliana Padu Lemba. Warga RT 16 Kelurahan Prailiu yang tinggal di Kampung Mahanga-Kalu ini sudah menangani ratusan proses persalinan dan semuanya selamat. Salah satu kasus persalinan “ekstrim” yang pernah ditangani oleh Ibu Padu Lemba yakni pada saat kasus persalinan sungsang. Dengan pengalaman dan keahlian yang dimiliki, beliau berhasil menyelamatkan ibu dan bayi dengan selamat melalui proses normal. Sepertinya beliau akan menjadi mapatika terakhir dari generasinya, karena dari ketiga anak perempuannya tidak ada yang mewarisi keahlian patikka.

Narasumber : Ibu Yuliana Padu Lemba (Dukun Beranak Terampil)

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: