logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Tradisi Potong Rambut (Kikkir)

11 Jan

Tradisi Potong Rambut (Kikkir)

Tradisi Memotong Rambut (Kikkir)

Oleh Grace Ndapamuri

Adat istiadat pemotongan rambut dipercayai oleh masyarakat Sumba yang menganut kepercayaan Marapu sebagai salah satu bentuk proteksi diri dari kekuatan gaib yang dapat merusak tubuh. Hal tersebut muncul dari keyakinan bahwa kepala sebagai pusat tubuh sehingga harus dilindungi.

Tradisi pemotongan rambut dilakukan pada saat bayi baru lahir. Rambut yang dipotong akan disimpan bersama tali pusat si bayi, yang kemudian dikubur di kolong rumah. Tradisi ini hanya berlaku bagi anak perempuan. Makna pemotongan rambut bagi anak perempuan tidak hanya terbatas dalam hal perlindungan dari kekuatan gaib, tapi juga sebagai penanda usia sang anak.

Ada beberapa tahapan dalam adat pemotongan rambut pada anak perempuan. Tahap pertama dilakukan pada saat anak baru lahir (anarara), tahapan kedua dilakukan pada saat berusia kanak-kanak yaitu sekitar 6-7 tahun (Ana Kiada), tahapan ketiga dilakukan saat anak usia akhil balik yaitu 13-14 tahun (ana karia kudu), tahapan keempat dilakukan saat anak berusia 15-20 tahun (ana karia matua). Dan setelah masuk pada tahap keempat ini, rambut akan dibiarkan panjang. Akhirnya, pada usia 20 tahun anak perempuan sudah bisa dilamar.

Masing-masing tahapan diatas, model pemotongan rambutnya akan berbeda. Rinciannya adalah sebagai berikut :

  • Untuk tahapan pertama rambut dipotong sedikit pada bagian atas kepala.
  • Lalu pada tahapan kedua, rambut bagian depan (poni-lunggi taka), digunting kurang lebih menjadi sepanjang 5 cm atau tepatnya harus di atas alis mata. Begitu juga pada bagian samping kiri, kanan dan belakang rambut (lunggi hundul) dan menyisakan rambut yang berada di bagian belakang kepala untuk dibiarkan panjang dan digulung.
  • Tahapan ketiga pemotongan rambutnya menjadi kurang lebih 2 cm lebih pendek daripada tahap kedua.
  • Begitu juga pada tahap keempat si anak atau sang gadis harus tetap mencukur rambutnya sesuai ketentuan sampai pada saat nanti dia dipinang atau memasuki tahap kelima.
  • Tahap kelima adalah di mana sang gadis telah dipinang maka rambut bagian depan (poni) dipotong pendek dan tidak perlu lagi dicukur dan dapat dipelihara supaya panjang kembali karena bagi wanita yang telah menikah diwajibkan untuk menggulung rambutnya.

Peralatan yang digunakan pada saat pemotongan rambut adalah sebuah pisau dan bilah kayu yang memiliki panjang sekitar 5-6 cm. Cara pemotongannya adalah bilah kayu digunakan sebagai penanda panjang pendeknya rambut yang akan dipotong.

Tradisi pemotongan rambut ini bisa dilakukan oleh siapa saja, maka kegiatan ini tidak memerlukan upacara atau perayaan. Tidak ada sanksi khusus jika adat tersebut d langgar. Jika terjadi pelanggaran yang harus dilakukan oleh wanita adalah rambutnya tidak boleh lagi dicukur, tapi bisa langsung dipanjangkan dan digulung.

Saat ini, makna pemotongan rambut mulai bergeser dari pemikiran untuk perlindungan diri dari kekuatan gaib menjadi hanya sebagai penanda usia menikah bagi perempuan. Menurut narasumber, peristiwa adat pemotongan rambut ini tidak lagi menjadi keharusan tetapi hanya sebuah pilihan dan keinginan masing-masing anak.

Pada saat ini adat pemotongan rambut tersebut semakin tenggelam dan tidak lagi dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba.

Nara sumber: Konga Hila

Editor: Luh Putu Ayu Riska Widarmiati

 

ecatalogadmin

Leave a Reply: