logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Tradisi Tato

11 Jan

Tradisi Tato

Tradisi Tato dalam Budaya Sumba Timur

Oleh Ferdi Yulius Lukas

Tradisi tato dalam budaya masyarakat Sumba Timur masih erat kaitannya dengan kepercayaan Marapu (penyembahan kepada roh nenek moyang). Tato dibuat sebagai tanda pengenal agar jiwa pemilik tato bisa masuk ke Praimarapu (sebutan surga menurut kepercayaan Marapu) setelah ia meninggal. Menurut kepercayaan Marapu, ketika seseorang meninggal ia akan ditanya apa tandanya bahwa ia telah melakukan perbuatan yang benar. Yang meninggal kemudian akan menunjukkan tatonya sebagai penanda. Konon katanya, jika tidak memiliki tato seseorang akan mengalami kesulitan di Praimarapu ketika ia meninggal.

Pembuatan tato biasanya dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang beranjak dewasa. Tanda perempuan telah dewasa adalah ketika poninya tidak lagi menyentuh dahi (poni bisa dinaikkan ke atas kepala jika belum cukup panjang atau dibiarkan panjang setelah ia dewasa. Untuk melihat lebih jauh tentang tanda kedewasaan perempuan di Sumba Kambera, lihat artikel tentang potong rambut (kikkir)). Sedangkan laki-laki dikatakan telah dewasa setelah ia sunat. Nampak bahwa pembuatan tato juga merupakan tanda seseorang telah memasuki masa dewasa. Bagian tubuh yang ditato adalah kaki/betis dan tangan untuk perempuan dan kaki/betis, tangan dan dada untuk laki-laki.

Alat yang digunakan dalam membuat tato masih sangat sederhana dan bisa ditemukan di sekeliling rumah. Alat-alatnya terdiri dari : jarum, peniti atau duri jeruk lokal  untuk memasukan tinta tato ke dalam kulit. Arang lampu pelita, arang sabuk kelapa atau arang periuk tanah sebagai tintanya. Bambu dan kayu bulat diperlukan sebagai pengapit jarum/peniti/duri jeruk. Selain itu ada alat pemukul yang terbuat dari bambu atau kayu.

Cara pembuatan tatonya sederhana, karena belum memiliki mesin tato secanggih saat ini. Langkah pertama yaitu mengambarkan pola terlebih dahulu. Kemudian, pola yang sudah digambar ditusuk dangan jarum/peniti/duri jeruk sambil ditaburi dengan bubuk arang pelita. Proses pembuatan tato sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama. Bisa berjam-jam, bahkan bisa juga sampai memakan waktu hingga berhari-hari lamanya. Hal tersebut karena rasa sakit yang ditimbulkan dari proses pembuatannya.

Cara penyembuhan bekas luka tato tersebut juga sederhana. Luka cukup dibalur dengan menggunakan daun roosa mala atau umakara yang sudah ditumbuk hingga halus. Tujuannya untuk mencegah luka agar tidak infeksi. Ketika tato selesai dibuat akan timbul suatu kebanggaan dan kepercayaan diri.

Tidak semua orang bisa membuat tato, harus orang yang sudah ahli dalam menggambar. Biasanya yang ahli membuat tato adalah orang yang bisa menggambar motif pada kain Sumba. Tato biasanya  dibuat pada saat pawalla, yakni berkumpul di malam hari untuk menemani tuan rumah yang berduka dalam upacara kematian.

Ada beberapa motif tato tradisional Sumba Timur. Di antaranya yaitu motif kuda yang melambangkan keperkasaan dan juga sebagai simbol kuda tunggangan ketika di Praimarapu Selain itu ada motif  ayam yang melambangkan kesadaran dan pemimpin yang dapat melindungi. Ada juga tato udang, ikan dan singa. Beberapa orang juga memiliki tato angka di tubuhnya yang biasanya melambangkan sebuah peristiwa penting yang ia alami. Tato angka ini biasanya dimiliki oleh mereka yang sekolah dan  mengenal angka.

Narasumber: Makka Pabundu dan Umbu Remi Detta

Editor: Ami Priwardhani

 

ecatalogadmin

Leave a Reply: