logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

Wunang

11 Jan

Wunang

WUNANG

Oleh. Grace Ndapamuri

Di setiap pembicaraan adat pada suku Sumba selalu ada wunang (juru bicara). Wunang menjadi perantara antara dua pihak yang akan berunding pada sebuah kegiatan adat. Contohnya dalam adat pernikahan, wunang bertugas untuk membuka pembicaraan. Wunang juga mewakili keluarga dalam merundingkan belis. Selain itu wunang juga berperan sebagai pelindung yang mampu mendamaikan situasi jika dalam pembicaraan adat tersebut terdapat konflik. Sehingga bisa dikatakan seorang wunang adalah negosiator yang diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan adat sehingga terjadi sebuah kesepakatan antara kedua belah pihak.

Wunang harus mampu menjadi mediator/jembatan bagi kedua belah pihak. Wunang harus jujur dan mampu menyampaikan pesan-pesan dengan syair-syair yang cocok/sesuai dengan situasi perundingan yang ia hadapi. Wunang juga harus konsisten dan tegas dalam pelaksanaan tata cara sesuai dengan pranata masing masing suku.

Pada acara adat para wunang berbicara bukan dalam bahasa sehari-hari, melainkan melalui syair dengan bahasa simbol yang disebut luluku. Ia tidak secara langsung mengacu pada hal yang ingin dimaksud melainkan melalui kiasan yang diinterpretasikan oleh lawan bicaranya. Orang Sumba sering menyebut bahasa yang digunakan para wunang sebagai “bahasa yang mendalam”. Syair dianggap halus dan lebih sopan; ia digunakan agar pihak yang berunding tidak mudah tersinggung.

Dalam adat perkawinan,  syair juga digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan atau ungkapan antara keluarga perempuan dan laki-laki ketika merundingkan belis. Masing-masing keluarga diwakili seorang wunang dan seorang kandehang (orang yang bertugas menjawab dan mengiyakan wunang). Wunang juga menceritakan silsilah calon pengantin, bagaimana mereka bertemu dan menikah dalam bentuks yair.

Syair yang diucapkan dalam ritual diwariskan secara lisan. Seorang wunang harus memiliki pengetahuan dan pemahaman akan syair tersebut sehingga ia mampu menggunakannya sesuai dengan situasi perundingan yang ia hadapi. Karena syair dalam ritual dianggap sebagai warisan leluhur, wunang tidak diperbolehkan mengubahnya atau menciptakan syair baru.

Ketika menjadi wakil keluarga dalam perundingan pada upacara adat, wunang berada di bawah pengarahan penuh keluarga yang bersangkutan. Meski demikian ia mengupayakan keluarga yang berunding mencapai kesepakatan meski tidak jarang konflik terjadi. Seorang wunang mengatakan bahwa selalu ada titik temu sealot apapun perundingannya. Jika konflik yang terjadi cukup keras, ia bisa berbicara kepada orang yang dituakan dalam keluarga yang berunding dan meminta mereka membujuk keluarga tersebut untuk mencari titik temu.

Tidak ada batasan umur dan keturunan untuk menjadi seorang wunang, asalkan ia merasa terpanggil dan mampu memahami, mengingat dan mengucapkan syair-syair ritual dengan baik. Keterampilan ini sangat penting dan cukup menantang mengingat orang Sumba di masa lalu memiliki tradisi lisan yang kental sehingga tidak ada manuskrip atau sumber tertulis tentang tata cara dan syair yang digunakan dalam kegiatan adat. Karena itu, tidak semua orang bisa menjadi wunang meski ia memahami arti bahasa yang dipakai dalam proses perundingan adat.

Selain itu wunang juga harus memiliki kesabaran, kebijaksanaan dan daya tahan untuk melakukan perundingan. Ia harus memiliki kemampuan untuk mencari solusi atas bermacam persoalan perundingan yang dihadapi.

Seorang narasumber mengatakan bahwa ia menjadi wunang karena merasa senang terlibat dalam kegiatan-kegiatan adat. Ia juga tidak belajar secara khusus untuk menjadi seorang wunang. Secara otodidak ia belajar dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan adat di kampungnya secara rutin.

Dalam kehidupan orang Sumba peran penting wunang tidak terelakkan. Ia menjadi ujung tombak terciptanya kesepakatan atau permufakatan bersama yang  dicapai melalui perundingan-perundingan adat. Ini menunjukkan bahwa pencapaian permufakatan juga merupakan hal yang penting bagi orang Sumba. Karena hanya melalui permufakatanlah pengelolaan kehidupan bisa berjalan dengan baik.

Narasumber : Marselinus Nggau Roti

Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: