logo
Selamat Datang di E-Catalog Sumba Heritage. Platfrom Informasi Budaya dan Kesenian Sumba.
Artikel Terbaru
+387648592568
info@GOtravel.com
FOLLOW US:
1-677-124-44227
Top
 

SIRIH PINANG (PAHAPPA)

20 Jan

SIRIH PINANG (PAHAPPA)

SIRIH PINANG (PAHAPPA)
Oleh. Jefri Nono Malo

Sirih dan pinang selalu ada dalam hampir setiap peristiwa kehidupan di Sumba Kambera. Ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam upacara-upacara adat seperti kematian dan perkawinan. Orang Sumba juga mengunyah sirih pinang dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tamu yang datang selalu disuguh sirih pinang terlebih dahulu sebelum diberikan kopi atau teh. Sirih pinang dikunyah bersama kapur. Setelah beberapa waktu kunyahan akan berubah warna menjadi merah.

Pada adat perkawinan pihak laki-laki menyodorkan tangawahil berisi mamuli dan dua keping pinang kepada orang tua pihak perempuan pada tahap perkenalan diri. Itu merupakan simbol bahwa laki-laki memiliki maksud dan tujuan untuk memperkenalkan diri kepada pihak perempuan. Sementara pinang merupakan simbol penghormatan dan penghargaan terhadap keluarga perempuan.
Pada tahap masuk minta, sirih pinang tetap menjadi suguhan awal ketika keluarga laki-laki tiba di rumah keluarga perempuan. Sirih pinang dibagikan kepada semua keluarga laki-laki yang hadir baik anak-anak maupun orang dewasa secara berurutan dan tidak boleh ada yang terlewatkan. Di setiap tahapan adat masuk minta (karai tau) sirih pinang selalu digunakan. Sebelum memulai pembicaraan adat, wunang (juru bicara) akan menyiapkan sirih pinang dalam tangawahil (tempat sirih pinang dari anyaman daun lontar). Hingga akhir dari pembicaraan sirih pinang akan terus disiapkan.

Pada adat kematian sirih pinang juga merupakan bagian penting. Ketika wunang mengundang keluarga pihak yang meninggal, ia terlebih dahulu bertukar sirih pinang dengan orang yang akan diundang sebelum menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.
Saat penguburan tiba sirih pinang akan disuguhkan kepada keluarga yang tiba di rumah duka sebagai tanda penghargaan dan penghormatan. Setelah penguburan selesai dan keluarga berunding secara adat, sirih pinang juga disuguhkan kepada keluarga yang hadir.
Sirih pinang juga dianggap sebagai sarana untuk berhubungan dengan nenek moyang atau leluhur yang telah meninggal. Sering dijumpai orang Sumba meletakkan sirih pinang di atas kuburan keluarga atau leluhur yang telah meninggal.

Sirih biasanya ditanam menggunakan stek. Biasanya kalau sudah berumur 1 – 2 tahun sirih sudah dapat berbuah sesuai dengan kondisi tanah di setiap perkampungan dan sudah bisa diambil untuk konsumsi.

Buah pinang yang sudah tua dan jatuh sendiri dari pohon disemai, lalu ditanam. Setelah 4-5 tahun pinang sudah dapat berbuah sesuai dengan kondisi tanah di setiap perkampungan. Pinang untuk dikonsumsi biasanya diambil yang belum terlalu tua, dikupas, iris tipis-tipis dan dijemur selama 3-4 hari. Akan tetapi, pinang muda yang baru dipetik bisa juga langsung dikonsumsi.

Sirih pinang yang disajikan kepada tamu merupakan simbol persaudaraan dan penghargaan kepada tamu. Jika tuan rumah tidak memiliki sirih pada saat tamu berkunjung ia tetap menyodorkan atau piring berisi pinang tanpa sirih untuk memastikan bahwa tamu merasa dihargai dan dihormati.

Nara sumber: Umbu Ririmeha Marambandamu dan Umbu Remi Detta
Editor: Ami Priwardhani

ecatalogadmin

Leave a Reply: